Mengapa IHSG Terkoreksi Beruntun dalam 5 Hari? Berikut Pandangan Analis
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatatkan koreksi sebanyak 3,34% dalam lima hari perdagangan terakhir. Bahkan, IHSG konsisten ditutup di zona merah dalam enam hari terakhir.
Penurunan lebih lanjut juga terjadi pada perdagangan saham intraday sesi I, Selasa (30/10/2024), dengan koreksi sebanyak 75 poin (1%) menjadi 7.530. Sedangkan penurunan indeks dalam enam hari terakhir telah lebih dari 258 poin dari 7.788 menjadi 7.530.
Baca Juga
DSNG Catat Lompatan Laba 72% Menjadi Rp 868 Miliar di Kuartal III-2024
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, penurunan IHSG beruntun dalam beberapa hari terakhir dipicu kekhawatiran pemodal terhadap sejumlah isu, seperti peningkatan tensi geopolitik dunia, instabilitas politik di Jepang, stimulus Tiongkok yang tak kunjung datang, volatilitas pemilu Amerika Serikat (AS), dan data inflasi serta tenaga kerya yang akan dilirik pekan ini.
“Sejumlah berita ini membuat pelaku pasar dan investor khawatir, sehingga memilih untuk aksi ambil untung dan wait and see dalam bertransaksi saham,” ujarnya kepada investortrust.id di Jakarta, Rabu (30/10/2024).
Baca Juga
IHSG Dibuka Terjerembab, tapi Saham FORU dan JIHD justru ARA
Meski IHSG dilanda penurunan, Nico mengatakan, potensi pembalikan arah tetap terbuka didukung sejumlah momentum. Di antaranya, momentul pilkada, window dressing saham, dan potensi pemangkasan suku bunga BI Rate.
Pemodal, terang dia, masih bisa mencermati saham-saham sektor kesehatan, konsumer non primer, properti, infrastruktur, dan perbankan. ”Di tengah situasi dan kondisi yang penuh dengan volatilitas, pemodal diminta untuk tetap hati hati dan waspadai dalam bertransaksi,” ujarnya.
Di Bawah Ekspektasi
Sementara itu, Head Customer Literaton and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi Kasmarandana mengatakan, koreksi IHSG dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi sejumlah faktor, seperti rilis kinerja emiten kuartal III dengan performa di bawah ekspektasi sejumlah pelaku pasar.
Sentimen negatif lainnya, terang dia, datang dari berita pailit emiten PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang bisa merembet ke emiten perbankan. Hal ini memicu saham-saham perbankan mengalami penurunan dan menjadi motor penekan IHSG dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga
Fantastis! Laba Wijaya Cahaya Timber (FWCT) Melesat 1.554% hingga Kuartal III-2024
Koreksi indeks, terang dia, juga dipengaruhi berlanjutnya penguatan harga emas paska rilis data tenaga AS dengan pelemahan. Penguatan komoditas ini memicu peralihan dana dari pasar modal ke investasi safe heavens asset. “Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD dan aksi tunggu investor terhadap data inflasi Indonesia periode Okt 2024 juga menjadi faktor penekan indeks,” terangnya kepada investortrust.id di Jakarta, hari ini.
Apabila Indonesia kembali mengalami deflasi bulan ini, dia mengatakan, bisa menjadi sinyal negatif terhadap ekonomi dan daya beli masyarakat. Meski demikian, Kiwoom Sekuritas menyebutkan beberapa saham tetap menarik untuk dicermati, seperti saham sektor keuangan, ritel dan bahan baku. Di antaranya, saham BBCA, BMRI, MAPI, AMMN, dan ANTM, direkomendasikan beli.
Grafik IHSG 5 Hari

