Meningkat 21,60%, Laba BSI (BRIS) Tembus Rp 5,11 Triliun di Kuartal III 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencatatkan kinerja positif hingga kuartal III 2024. Hal ini tercermin dari total laba bersih tahun berjalan yang meningkat 21,60% menjadi Rp 5,11 triliun dibandingkan Rp 4,20 triliun pada kuartal III 2023.
Ini menjadikan BSI masuk dalam bank dengan pertumbuhan laba lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional. Hampir semua indikator kinerja keuangan lainnya seperti aset, pembiayaan dan dana pihak ketiga tercatat tumbuh double digit.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, pertumbuhan laba yang sustain antara lain buah dari penerapan strategi bisnis yang tepat. BSI tetap fokus pada pembiayaan yang sehat dan sustain, yakni di segmen konsumer dan ritel dengan komposisi 72,17%, serta funding fokus pada pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) dengan komposisi 61,69% dari total DPK. Selain itu, BSI mengoptimalkan customer base yang saat ini mencapai 21 juta nasabah
"Kami tetap tumbuh double digit sampai kuartal III di tengah makro ekonomi yang cukup menantang dengan tingginya reference rate. Namun, BI mulai menurukan suku bunga acuannya,’’ kata dia dalam paparan kinerja kuartal III 2024 di Jakarta, Selasa (29/10/2024).
BSI, lanjut Hery Gunardi, masih terus menumbuhkan segmen- bisnis yang potensial dengan kualitas terjaga sembari terus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah terutama dari sisi digital.
Kenaikan laba tersebut ditopang oleh pembiayaan yang mencapai Rp 267,06 triliun atau naik 15,28% di atas rata-rata industri yakni 11,30% per Agustus 2024. Semua segmen tumbuh positif double digit di mana segmen wholesale tumbuh 12,17%, ritel 17,30% dan konsumer tumbuh 16,27%. Pertumbuhan pembiayaan yang positif diiringi dengan kualitas yang sehat dengan non performing financing (NPF) gross sebesar 1,97%.
Dari beberapa produk pembiayaan BSI terdapat Produk Cicil Emas yang pertumbuhannya meningkat 143,41% dan memiliki NPF sebesar 0,00%. Produk ini merupakan unique product BSI yang memiliki potensi untuk tumbuh lebih besar lagi seiring dengan meningkatnya tren investasi emas. Pembiayaan cicil emas BSI naik 5-6 kali lipat sejak merger yang dipicu peningkatan harga emas secara signifikan.
Baca Juga
Tingkatkan Akses Keuangan, BSI Perluas Layanan Remitansi di 12 Negara
Kemudian dari sisi penghimpunan dana, di tengah ketatnya kompetisi likuiditas bank, BSI menumbuhkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 14,92% menjadi Rp 301,22 triliun per posisi kuartal III 2024. Di mana komposisi DPK didominasi produk tabungan yang pada periode yang sama tumbuh 13,40% yoy menjadi Rp 130,18 triliun. Adapun rasio dana murah (current account saving account/CASA) berada pada posisi 61,69%.
Kenaikan tabungan sejalan dengan peningkatan customer base yang sejak merger rata-rata bertambah 2,5 juta nasabah pertahun. Untuk meningkatkan layanan, BSI terus memperbaiki layanan termasuk mempersiapkan super apps yang segera diluncurkan, selain menambah jumlah ATM, EDC, layanan QRIS, serta akses BSI Agen.
Di sisi lain, DPK dari Tabungan Bisnis BSI sendiri per September 2024 mengalami pertumbuhan sebesar 34,83% yoy. Tabungan Bisnis BSI merupakan produk perbankan yang dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan finansial bisnis, baik itu usaha mikro, kecil, maupun menengah.
Untuk Tabungan Wadiah juga tumbuh 19,04%, BSI juga menawarkan nasabah produk yang khas syariah seperti Tabungan Haji BSI. Pada Triwulan III 2024, Tabungan Haji melonjak hingga 16,47% dengan penetrasi sebanyak 5,39 juta rekening. Jumlah ini terus meningkat seiring dengan posisi BSI sebagai market leader Tabungan haji di Indonesia.
Hery menambahkan dari disiplin pada fokus bisnis meningkatkan pendapatan marjin bagi hasil bank sebesar Rp 18,41 triliun tumbuh 11,98% yoy, sementara di sisi lain fee based income juga tumbuh 30,14% menjadi Rp 3,94 triliun, menjadikan PPOP BSI sebesar Rp 8,52 triliun tumbuh 7,61% YoY. Di sisi lain dengan kualitas terjaga ditandai dengan menurunnya NPF gross ke level 1,97% dan cost of credit ke level 0,97%.
Baca Juga
Seiring dengan naiknya pendapatan, bank berkode saham BRIS ini juga semakin mampu melakukan efisiensi dalam proses bisnisnya. Terlihat dari beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) yang tercatat 71,43% pada kuartal III 2023 menjadi 69,83% di periode yang sama tahun ini.
Sementara, aset BSI per posisi September mencapai Rp 371 triliun tumbuh 15,91% yoy dengan return of equity (ROE) berada pada posisi 17,59%.

