Austindo (ANJT) Beberkan Penyebab Penurunan Pendapatan 6,1% di Semester I-2024
BELITUNG, investortrust.id - PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mencatat penurunan pendapatan sebesar 6,1% secara year on year (yoy) menjadi US$ 108,3 juta atau sekitar Rp 1,72 triliun pada semester I-2024.
Pada periode yang sama tahun 2023 pendapatan Perseroan tercatat sebesar US$ 115,4 juta atau sekitar Rp 1,73 triliun.
Direktur Teknik dan Keamanan ANJT, Muhammad Fitriyansyah, mengungkapkan sejumlah penyebab terjadinya penurunan pendapatan di semester I-2024. Faktor utama menurut Fitriyansyah karena terkait cuaca ekstrem dan supply buah dari luar.
"Pertama memang cuaca yang masih kita seperti hadapi terutama di Belitung Timur itu kemaraunya masih berkepanjangan," ucapnya dalam diskusi Kontribusi Sawit untuk APBN dan Perekonomian di Belitung beberapa hari lalu.
Baca Juga
Austindo Nusantara (ANJT) Anggarkan Capex Rp 599 Miliar, Dorong Pertumbuhan TBS 6% Tahun 2024
Diakui pendapatan yang diharapkan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Selain adanya cuaca ekstrem yang melanda dalam jangka panjang, emiten yang bergerak di sektor perkebunan sawit ini juga melihat sejumlah tantangan lain, diantaranya terdapat pabrik kelapa sawit yang tanpa perkebunan.
Terkait adanya pabrik kelapa sawit tanpa kebun itu, Fitriyansyah mengungkapkan hal tersebut menyebabkan berkurangnya supply atau penawaran buah sawit dari luar.
"Di sini itu ada pabrik kelapa sawit yang tanpa kebun, jadi supply buah luar kami itu berkurang karena ada pabrik kelapa sawit yang didirikan tanpa ada kebun dan ini cukup meresahkan," tandasnya.
Sementara dari sisi operasional, Perseroan memproduksi sebesar 370.650 metrik ton (mt) Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan inti pada periode semester I-2024, lebih rendah 9,1% dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 407.560 mt.
Baca Juga
Austindo Group (ANJT) Kembali Raih Penghargaan Proper Emas dan Proper Hijau
Hasil produksi yang lebih rendah menyebabkan produktivitas TBS per hektare (ha) area menghasilkan turun dari 9,2 mt per ha pada semester I-2023 menjadi 8,6 mt per ha pada semester I-2024. Namun demikian, secara kuartalan (Q-o-Q), Perseroan mencatatkan peningkatan volume produksi TBS sebesar 14,0% menjadi 197.425 mt, pada kuartal kedua tahun 2024 dari 173,225 mt pada kuartal sebelumnya.
Sementara itu dari sisi bottom line, ANJT membukukan rugi periode berjalan sebesar US$ 4,7 juta atau sekitar Rp 74,55 miliar di semester I-2024. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Perseroan mencatat rugi sebesar US$ 4,9 juta atau sekitar Rp 75,25 miliar di semester I-2023.
Grafik Harga Saham ANJT secara Ytd:

