Bos Maybank Sekuritas Ramal IHSG Tembus 8.000 Tahun 2024, Sektor Ini Bakal Moncer
JAKARTA, investortrust.id - PT Maybank Sekuritas Indonesia (Maybank Sekuritas) optimistis bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat mencapai level 8.000 pada tahun ini.
Presiden Direktur Maybank Sekuritas Willianto Le mengatakan, rally IHSG menuju 8.000 bisa terjadi bila Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve memangkas suku bunganya pada awal kuartal IV-2024.
“Jadi kita sebenarnya cukup positif (melihat IHSG), karena pada paruh kedua tahun ini suku bunga dunia itu akan mulai turun. Sehingga biasanya (kinerja) pasar modal itu akan membaik. Mudah-mudahan tidak ada hal-hal lain yang mengganggu senario ini. Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi dunia, maupun election di Amerika Serikat,” ujar Willianto Le, di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/7/2024).
Terkait sektor yang dinilai akan menguat oleh Maybank pada kuartal III dan IV tahun ini adalah saham-saham beberapa sektor konsumer, sektor properti, dan sektor perbankan.
Baca Juga
Dipicu Kenaikan Kredit, Laba J Trust Bank Meroket 209,9% di Semester I 2024
“Seperti Astra International, kemudian sektor properti yang biasanya sensitif terhadap suku bunga ini dengan adanya tren penurunan suku bunga itu kemungkinan akan membaik. Kemudian, saham-saham perbankan, dengan saham-saham dengan bank-bank yang kuat seperti Mandiri, BCA. Kita berharap, bahwa pertumbuhan kredit dan juga kualitas aset mereka itu masih tetap bagus dan valuasi mereka itu masih tetap menarik,” tuturnya.
Sementara itu, pada kuartal III dan IV 2024 IHSG akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri dan luar negeri. Dari dalam negeri, terdapat peralihan serah terima jabatan Presiden dari Joko Widodo kepada Prabowo Subianto.
“Tentu market itu masih sampai ini masih bertanya-tanya kan nanti programnya kan kita sudah tahu selama kampanye ya selama itu selanjutnya kedepannya akan berapa serius dalam menjalankan janji-janji kampanye. Kemudian menteri-menteri yang di portofolio ekonomi keuangan itu, nanti apakah orang yang menurut market itu market friendly atau enggak, yang pro-growth,” terang Willianto.
Baca Juga
Jokowi Dukung Keterlibatan Pengusaha Lokal dalam Pembangunan IKN
Kemudian, dari sisi eksternal, terdapat isu pertumbuhan ekonomi dunia yang melemah, inflasi yang turun, namun harapannya dapat segera kembali positif. Di samping itu, terdapat pemilihan umum di Amerika Serikat pada bulan November, yang diperkirakan dapat mempengaruhi pasar secara keseluruhan.
“Nah nanti hasil pemilunya juga nanti kita lihat mungkin akan mempengaruhi market setelah keseluruhan. Jadi, walaupun kami berharap bahwa nilai transaksi di semester kedua itu lebih bagus daripada semester pertama, cukup tinggi. Menurut kami itu sangat penting untuk mengerti dan melihat dan mendapatkan advice dari pihak-pihak yang terpercaya,” pungkasnya.

