Sinarmas AM Jadi MI Pertama Gaet AI, Return Bisa 20% Setahun
JAKARTA, investortrust.id - Sinarmas Asset Management menjadi manajer investasi pertama yang berkolaborasi dengan vendor artificial intelligence (AI). Kolaborasi Sinarmas AM dengan vendor AI dari Kanada ini diharapkan mampu memberikan tingkat return yang lebih baik bagi pemilik produk reksa dana dari Sinarmas, khususnya reksa dana saham.
Dari hasil kolaborasi ini, salah satu reksa dana saham (Danamas Saham) dari Sinarmas Asset Management yang dikolaborasikan dengan penggunaan AI, mampu memberikan tingkat return yang tinggi, sebesar 20,40% pada Mei 2024 secara year on year, di tengah pelemahan indeks LQ45 dan IDX30.
“Bisa dibilang ini adalah kita adalah MI pertama yang menggunakan AI dalam pengelolaan dana. Dan kita pun sedang mematenkan teknik AI ini ke dalam HAKI. Kita targetkan semoga cepat juga menjadi paten, dan ini bisa menjadi teknik yang cukup mutakhir dan sudah terbukti pada reksa dana kita” katanya.
Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu berdiskusi dengan Managing Editor Investortrust, Fajar Widiyanto pada podcast Konvergensi di kantor redaksi Investortrust di Jakarta, Jumat (29/6/2024). Foto: Investortrust/Elsid Arendra
Baca Juga
Sinarmas AM Ungkap Sentimen Positif Pertumbuhan Reksa Dana 2024
Dalam kesempatan tersebut ia mengungkapkan bahwa saat ini di Sinarmas AM baru reksa dana saham yang dikolaborasikan dengan learning machine AI. Ke depannya, dengan perkembangan teknologi, tidak menutup kemungkinan jenis reksa dana lain seperti pendapatan tetap juga dapat menjadi salah satu reksa dana yang bisa didorong oleh AI pengelolaannya sehingga mampu mencetak return maksimal.
Menurut Genta, AI dapat berpotensi sangat besar untuk dikembangkan di industri reksa dana, dan di Indonesia Sinarmas menjadi pemelopor penggunaan AI tersebut. Ke depan, langkah investasi Sinarmas AM di AI pun bisa menjadi terobosan menarik bagi Sinarmas Group secara keseluruhan, untuk menciptakan track record kinerja yang baik.
Di sejumlah negara maju, sebagian besar manajer investasi pun telah mengadopsi AI. Sementara itu di dalam negeri, lanjut Genta, penggunaan AI pada produk investasi khususnya reksa dana masih belum familiar mengingat mahalnya investasi pada teknologi AI.
“Yang paling pasti, selain belum teredukasi dengan baik, investasi di AI (untuk manajer investasi) ini bisa dibilang cukup mahal, sangat-sangat costly. Tapi dengan melihat hasilnya saya pikir ini sangat cukup worth it ya,” pungkasnya.

