Perkuat Bisnis Logistik, Adi Sarana (ASSA) Kantongi Sertifikat Halal
JAKARTA, investortrust.id – PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) mengantongi jaminan sertifikat halal, demi memperkuat bisnis logistik yang dijalankan. Hal ini dilakukan untuk memenuhi setiap kebutuhan pengguna jasa logistik, serta melayani kebutuhan perusahaan yang memerlukan layanan logistik halal.
Dalam hal ini, anak usaha PT Adi Sarana Armada (ASSA Logistics) dan PT Adi Sarana Transportasi atau Cargoshare Logistics telah resmi bersertifikat halal.
“Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia menghadapi permintaan yang terus meningkat untuk produk dan jasa halal,” terang Direktur Utama ASSA, Prodjo Sunarjanto secara tertulis, Jumat (5/1/2024).
Menurut dia, integrasi logistik halal menjadi suatu kebutuhan penting untuk memastikan kehalalan produk secara end-to-end di seluruh rantai pasokan. Ini mencakup penerapan praktik halal dalam produksi, penyimpanan, transportasi, dan distribusi.
Baca Juga
Logistik Berkontribusi Besar pada PDB, MTI Desak Pemerintah Bentuk Badan Pengatur Logistik
Melalui sistem logistik halal yang terintegrasi, Indonesia bertujuan menjamin kenyamanan dan keamanan bagi konsumen muslim. Hal ini turut mengurangi risiko kontaminasi dan meningkatkan daya saing produk halal di pasar global.
“Dengan diperolehnya sertifikat tersebut telah membuat layanan logistik halal menjadi nilai tambah tersendiri dalam layanan logistik yang disediakan ASSA. Ini merupakan bagian dari konsistensi kami untuk selalu berupaya memenuhi kebutuhan yang beragam dari para pelanggan layanan logistik,” papar Prodjo.
Untuk semakin meningkatkan semangat para Satria (kurir Anteraja) dalam melayani pelanggan, perseroan memberikan perhatian terhadap berbagai aspek kesejahteraan, termasuk di antaranya pemberian umroh.
Pada 23 November 2023, Anteraja memberangkatkan 10 Satria untuk pergi beribadah umroh. Wisata religi ke Mekah ini merupakan bentuk apresiasi untuk semua Satria yang dinilai produktif dari data per region.
Baca Juga
Menko Perekonomian Targetkan Biaya Logistik Turun Jadi 12% pada 2030
Sementara itu, industri logistik nasional, berdasarkan Ken Research dan LPI WorldBank, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sekitar 17.500 pulau. Biaya logistik bervariasi sekitar 23,5% dari produk domestik bruto (PDB) dengan 87,6% pengiriman barang dilakukan melalui darat.
“Negara ini menanggung biaya logistik tinggi untuk mengangkut barang. Logistik terintegrasi akan menjadi salah satu solusi meminimalkan biaya tersebut,” tegas Prodjo.
Sebagian besar perusahaan menggunakan beberapa penyedia logistik, yang menghasilkan biaya yang lebih tinggi dan tidak terintegrasi. Regulasi pemerintah juga mendukung rencana untuk meningkatkan konektivitas antarpulau.
Selain itu, industri logistik yang termasuk di dalamnya jasa pengiriman ekspres, diprediksi kembali menggeliat seiring hadirnya sejumlah katalis positif, mulai dari kembali beroperasinya TikTok Shop dalam persaingan e-commerce Tanah Air.
Ada pula tren kenaikan permintaan barang di akhir tahun, momen tahun baru, hingga gelaran Pemilu 2024.
“Riset Google, Temasek, dan Bain & Co memprediksi, nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) atau jumlah total barang dagangan yang terjual melalui situs atau aplikasi e-commerce di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun,” pungkasnya.

