Kembali Tumbuh, Laba Blue Bird (BIRD) Melesat 26,39%
JAKARTA, investortrust.id – PT Blue Bird Tbk (BIRD) membukukan peningkatan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 26,39% menjadi Rp 452,97 miliar pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 358,35 miliar.
Kenaikan tersebut menjadikan laba per saham dasar perseroan melesat dari Rp 143 menjadi Rp 181 per saham. Sedangkan saham BIRD pada perdagangan terakhir di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup di level Rp 1.750 per saham.
Baca Juga
Pertumbuhan Diprediksi Berlanjut, Begini Prospek Saham Blue Bird (BIRD)
Manajemen BIRD dalam rilis laporan kinerja keuangan di BEI, Sabtu (30/3/2024) menyebutkan, kenaikan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan BIRD dari Rp 3,59 triliun menjadi Rp 4,42 triliun. Laba bruto juga meningkat dari Rp 1,07 triliun menjadi Rp 1,40 triliun.
Perseroan juga berhasil mengendalikan beban usaha dengan kenaikan dari Rp 652,51 miliar pada 2022 menjadi Rp 863,17 miliar pada 2023. Alahasil alba usaha naik dari Rp 419,91 miliar menjadi Rp 540,95 miliar.
Sedangkan total aset perseroan tahun lalu meningkat dari Rp 6,89 triliun menjadi Rp 7,56 triliun. Begitu juga dengan total liabilitas meningkat dari Rp 1,54 triliun menjadi Rp 1,94 triliun.
Sebelumnya, Chief Strategy Officer Blue Bird (BIRD) Andrew Arristianto mengatakan, BIRDmembidik penambahan jumlah kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebanyak 100 unit, menjadi 300 unit pada akhir 2024 dari realisasi saat ini di kisaran 200 unit. Jumlah tersebut masih di kisaran 1% dari total armada taksi yang perusahaan miliki.
Baca Juga
Pengendali Blue Bird (BIRD) Berlomba-lomba Borong Saham, Ada Apa?
Saat ini, Bluebird telah mengoperasikan sekitar 200 unit EV untuk e-BlueBird, e-SilverBird, dan e-GoldenBird.Operator taksi berlogo burung tersebut menargetkan, jumlah taksi EV yang mereka operasikan akan mencapai 10% dari total armada pada 2030. Namun manajemen belum bisa memastikan berapa persen rasio EV yang dapat dipenuhi tahun ini.
“Ada (target naik tahun 2024) tetapi kami belum bisa memastikan, karena kami belum bisa memilih. Sekarang insentifnya banyak, pemain barunya juga banyak. Kami masih harus lihat-lihat lagi mana yang akhirnya cocok untuk kebutuhan kami,” jelas Andrew menjawab Investortrust.id, baru-baru ini.
Padahal perseroan telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2 triliun pada 2024 untuk seluruh divisi, termasuk upaya mencapai 500 unit EV tahun ini. Total capex ini hampir setara dua kali lipat atau naik 100% bila dibandingkan serapan belanja modal perusahaan sampai kuartal III-2023 senilai Rp 1,02 triliun.

