Saham Maja Agung (SURI) Melesat 320%, Manajemen Ungkap Fakta Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Maja Agung Latexindo Tbk (SURI) menyebutkan bahwa lompatan harga saham sejak listing perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga kini murni mekanisme pasar. Apalagi perseroan baru mencatatkan saham.
“Memang terjadi kenaikan signifikan saham SURI. Adapun penyebab tersebut, seperti yang kita tahu, Maja Agung ini baru saja melakukan corporate action berupa pencatatan perusahaan kami di Bursa,” ungkap Direktur Marketing SURI, Engel Stefan dalam Public Expose Insidentil oleh PT Maja Agung Latexindo Tbk (SURI) secara daring, Kamis (15/02/2024).
Baca Juga
Saham Ytd Terbang 21,07%, Market Cap Bank Mandiri (BMRI) Merangsek Peringkat Empat
Maja Agung Latexindo (SURI) adalah emiten yang bergerak di produksi sarung tangan latex. Berdiri sejak 1988, SURI resmi mencatatkan saham perdana di BEI pada 7 Desember 2023. Saat itu, perseroan melepas sebanyak 1,26 miliar saham atau sebesar 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
SURI mematok harga IPO sebesar Rp 170 per saham. Dengan demikian total dana yang berhasil dihimpun dari aksi korporasi ini senilai Rp 215,36 miliar. Adapun komposisi pemegang saham SURI hingga 15 Februari 2024 adalah Hansen Jap 80% dan Masyarakat 20%.
Berdasarkan data BEI, saham SURI telah melesat dari level penutupan akhir tahun 2023 Rp 164 menjadi Rp 690 pada penutupan perdagangan saham pada 5 Februari 2024 atau telah melesat 320,73%. Lompatan harga tersebut membuat saham ini pernah disuspensi BEI pada 6 Februari 2024.
Sebelumnya, Marketing Director SURIEngel Stefan mengatakan, SURImenargetkan peningkatan pendapatan menjadi Rp 100 miliar sampai akhir 2023, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 93,32 miliar. Kenaikan target tersebut didukung peluasan pasar ekspor ke Eropa.
Baca Juga
Hingga Mei 2023, pereroan baru mencapatkan penjualan bersih Rp 9,08 miliar, dibandingkan periode sama tahu lalu Rp 67,83 miliar. Perseroan juga berbalik rugi bersih Rp 5,91 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu dengan laba bersih Rp 11,25 miliar.
“Target pendapatan tahun inimudah-mudahan bisa menembus angka Rp 100 miliar. Pendapatan juga ditargetkan lanjutkan pertumbuhan sekitar 30% untuk tahun depan,” ujar Engel Stefan.
Dia menambahkan, perseroan membidik peningkatan pendapatan hingga 100% dalam lima tahun ke depan atau pada 2028. “Penjualan difokuskan ke pasar ekspor, khususnya ke Amerika Serikat, karena selama 35 tahun (Maja Agung) memang membidik pasar Amerika,” pungkasnya.

