Menjawab Sorotan Transparansi, BEI Perkuat Pengawasan Real Time
"Transparansi kepemilikan saham, pendalaman likuiditas, dan pengawasan perdagangan menjadi fokus BEI untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia".
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan komitmen bursa memperkuat transparansi, meningkatkan likuiditas, dan mempertajam pengawasan perdagangan secara real time. Ketiga langkah tersebut menjadi fondasi untuk menjawab sorotan terhadap kredibilitas pasar sekaligus menopang pertumbuhan pasar modal Indonesia.
Jeffrey menyampaikan hal itu dalam pembukaan Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Bursa Efek Indonesia. Menurut dia, dinamika yang dihadapi pasar modal perlu direspons dengan perbaikan berkelanjutan serta kerja sama seluruh pemangku kepentingan.
Ia menjelaskan, pasar modal Indonesia menghadapi dua kondisi yang perlu dicermati secara bersamaan. Di satu sisi, fundamental perusahaan tercatat masih baik, aktivitas transaksi bertumbuh, dan jumlah investor terus meningkat. Di sisi lain, terdapat perhatian dari penyedia indeks global terhadap transparansi, kredibilitas, dan tata kelola pasar.
Baca Juga
Di Tengah Ancaman MSCI, BEI Pamer RNTH Tumbuh di Atas 10% dan Investor Melonjak
“Apa yang disampaikan oleh global index provider terkait dengan transparansi, kredibilitas, dan tata kelola di pasar modal kita itu juga tentu sesuatu yang perlu kita perhatikan,” ujar Jeffrey.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BEI bersama organisasi regulator mandiri atau self-regulatory organization (SRO) lainnya serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat kualitas pasar. Jeffrey menekankan bahwa pengembangan pasar membutuhkan keterbukaan informasi yang semakin baik, perdagangan yang likuid, dan pengawasan yang efektif.
Dari sisi transparansi, ia menyebut keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% sebagai salah satu langkah yang telah dijalankan. Bursa juga menyediakan informasi yang lebih beragam mengenai investor untuk membantu pelaku pasar memahami struktur dan karakteristik kepemilikan saham.
Menurut Jeffrey, upaya tersebut akan terus dilanjutkan dengan peningkatan kualitas keterbukaan informasi. Transparansi menjadi bagian penting dalam membangun pasar yang kredibel dan memberikan dasar informasi yang lebih baik bagi pengambilan keputusan investasi.
Pada aspek likuiditas, BEI terus mengupayakan pendalaman pasar dari sisi permintaan maupun penawaran. Langkah ini diarahkan untuk mendukung proses pembentukan harga atau price discovery yang lebih baik.
Pendalaman pasar menjadi penting agar pertumbuhan partisipasi investor diikuti peningkatan kualitas perdagangan. Dengan likuiditas yang semakin kuat, pasar diharapkan mampu menjalankan fungsi pembentukan harga secara lebih efektif.
Baca Juga
OJK Tegaskan Komitmen Reformasi Sektor Asuransi dan Dana Pensiun di Forum OECD
Sementara itu, pada aspek pengawasan, Jeffrey menegaskan tingginya komitmen BEI untuk meningkatkan efektivitas pemantauan perdagangan. Ia menyampaikan rencana pengawasan secara real time guna mendeteksi indikasi pelanggaran dalam transaksi di bursa.
“Kombinasi dari transparansi yang lebih tinggi, likuiditas yang lebih baik, dan pengawasan yang lebih efektif akan menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan pasar kita ke depan,” kata Jeffrey.
Ia menilai CMSE 2026 menjadi momentum strategis untuk mempertemukan pelaku industri, investor, dan calon investor dalam membahas perkembangan serta tantangan pasar modal. Forum ini juga memberikan ruang untuk bertukar pandangan dengan narasumber yang memiliki pengalaman menghadapi berbagai dinamika pasar.
Jeffrey mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini merupakan bagian dari perjalanan panjang pasar modal Indonesia. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu menjaga komitmen bersama untuk terus memperbaiki dan mengembangkan pasar.
“Sudah banyak tantangan yang kita hadapi. Dan pasti, ini bukan tantangan terakhir. Ke depan akan masih banyak tantangan yang akan kita hadapi,” ujarnya.
Baca Juga
OJK Tegaskan Sektor Jasa Keuangan Nasional Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global
CMSE 2026 berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan industri pasar modal. Jeffrey menyebut kegiatan tersebut menghadirkan 88 stan sebagai sarana interaksi, edukasi, dan pengenalan layanan maupun peluang investasi kepada masyarakat.
BEI juga mengajak lima usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan IDX Incubator untuk berpartisipasi. Keterlibatan UMKM tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman dan membuka akses yang lebih luas terhadap pasar modal.
Menurut Jeffrey, manfaat pasar modal perlu menjangkau berbagai lapisan masyarakat dan pelaku usaha. Semangat inklusivitas tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan CMSE maupun pengembangan pasar modal Indonesia. “Inilah esensi dari pasar modal Indonesia, yaitu pasar modal yang inklusif untuk setiap pihak,” tegasnya.
