Aluminium Jadi Mesin Uang Baru, Saham Alamtri Minerals (ADMR) Ditargetkan Menuju Level Ini
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) masih menarik, seiring mulai beroperasinya bisnis aluminium yang memberikan tambahan kontribusi signifikan terhadap pendapatan dan laba perseroan.
Hal ini mendorong KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi belisaham ADMR dengan target harga Rp 2.100 per saham, sehingga terbuka potensi cuan lebih dari 59%, dibandingkan dengan harga penutupan saham ADMR kemarin level Rp 1.320.
Analis KB Valbury Sekuritas Atikah Tri Adriyanti menyebutkan, prospek pertumbuhan ADMR ditopang oleh kontribusi bisnis aluminium, sementara batu bara metalurgi masih menjadi bisnis inti perseroan. Operasional aluminium ADMR mencatatkan kinerja awal yang kuat pada kuartal III-2026 dengan pendapatan US$ 522,4 juta dan laba bersih US$ 93,5 juta.
Baca Juga
Momentum Lompatan Kinerja Keuangan Adaro Minerals (ADMR), Bagaimana Harga Sahamnya?
ADMR membukukan pendapatan US$ 669,1 juta pada kuartal III-2026. Angka tersebut melonjak 111,5% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ) dan meningkat 189,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY). Bisnis aluminium penyumbang utama US$522,4 juta atau 78,1%. Alhasil pendapatan ADMR sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai US$ 1,2 miliar, tumbuh 85,6% YoY.
Pertumbuhan ini turut mendorong peningkatan laba. ADMR mencatatkan laba bersih US$143,3 juta pada kuartal III-2026, melonjak 65,8% QoQ dan 125,1% YoY. Secara kumulatif, laba bersih ADMR selama Januari–September 2026 mencapai US$ 317,5 juta atau setara 70,5% dari estimasi KB Valbury untuk sepanjang 2026.
KB Valbury menilai bisnis aluminium memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan setelah memulai penjualan komersial pada kuartal III-2026. Segmen aluminium membukukan volume penjualan sebanyak 146.000 ton dengan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) US$3.578 per ton. Harga tersebut 19,3% lebih tinggi dibandingkan asumsi KB Valbury sebesar US$3.000 per ton.
Dari sisi produksi, KAI berhasil menyelesaikan proses peningkatan kapasitas produksi (ramp-up) dan telah mencapai kapasitas penuh. Produksi aluminium ingot mencapai 113.000 ton pada kuartal III-2026, sehingga total produksi selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai 249.000 ton.
Di sisi lain, bisnis batu bara metalurgi ADMR masih menghadapi tantangan operasional berupa penurunan volume pengiriman akibat kendala logistik selama musim kemarau. Pendapatan segmen pertambangan pada kuartal III-2026 tercatat US$145,6 juta, turun 53,8% QoQ dan 36,7% YoY. Penurunan tersebut terutama dipicu volume penjualan batu bara kokas yang hanya mencapai 0,7 juta ton, merosot 56,9% QoQ dan 53,5% YoY.
Empat Katalis Saham ADMR
Dalam risetnya, KB Valbury mempertahankan target harga ADMR sebesar Rp2.100 per saham menggunakan metode valuasi SOTP. KB Valbury mengidentifikasi empat faktor yang dapat menjadi katalis positif bagi prospek bisnis dan harga saham ADMR.
Baca Juga
Pemerintah Buka Data ke Publik, Ini 13 Dashboard untuk Pantau Berbagai Program
Pertama, percepatan peningkatan kapasitas produksi KAI yang berpotensi memperkuat kontribusi bisnis aluminium terhadap pendapatan dan laba perseroan.
Kedua, integrasi pembangkit listrik captive berbiaya lebih rendah yang dapat mendukung efisiensi operasional bisnis aluminium.
Ketiga, kenaikan harga aluminium dan batu bara kokas yang berpotensi meningkatkan pendapatan serta profitabilitas kedua segmen usaha ADMR. Serta keempat, ekspansi kapasitas smelter yang membuka peluang peningkatan skala bisnis aluminium perseroan.
