Waduh! Binance Diretas Rp 103,6 Triliun, Harga Kripto Ikut Panik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Exchange kripto terbesar dunia, Binance mengalami eksploitasi keamanan dengan nilai aset yang diduga dicuri mencapai lebih dari US$5 miliar atau setara Rp91 triliun (kurs Rp18.183 per dolar AS) pada Kamis (29/10/2026). Insiden tersebut berpotensi menjadi salah satu peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto.
Berdasarkan data Arkham Intelligence, dompet yang terhubung dengan pelaku menyimpan aset kripto senilai lebih dari US$5,7 miliar setara Rp 103,6 triliun. Aset tersebut antara lain hampir US$1,5 miliar (Rp 27,3 triliun) Bitcoin, US$900 juta (Rp 16,4 triliun) Ethereum, serta gabungan sekitar US$1,4 miliar (Rp 25,5 triliun) dalam bentuk stablecoin USDT dan USDC.
Binance menyatakan tengah menyelidiki laporan mengenai potensi masalah keamanan tersebut. Sementara itu, Pendiri Binance Changpeng Zhao atau CZ menyampaikan bahwa dana pengguna aman dan perusahaan akan menanggung potensi kerugian akibat insiden tersebut.
“Dana pengguna aman,” kata CZ melalui unggahan di media sosial X dikutip dari Coindesk, Jumat (30/10/2026).
Ia menambahkan, meskipun tidak lagi mengelola Binance, dirinya berharap seluruh dana pengguna tetap dijamin sepenuhnya. Insiden tersebut turut menekan harga sejumlah aset kripto. Bitcoin tercatat turun sekitar 3% ke level US$78.800, sedangkan Ether melemah 4%. BNB terkoreksi 6,7% dan AAVE turun 8%.
Baca Juga
Binance US Incar Dana Segar Rp 1,8 Triliun di Tengah Persaingan Exchange Kripto
Data blockchain Arkham menunjukkan dompet yang terhubung dengan eksploitasi Binance mulai memindahkan aset melalui bursa terdesentralisasi Uniswap. Pelaku juga dilaporkan meminjam sedikitnya 20.000 wrapped ether (WETH), senilai sekitar US$44 juta, melalui protokol pinjaman terdesentralisasi Aave dengan menggunakan USDT hasil pencurian sebagai jaminan.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah upaya pelacakan dan pembekuan aset. CEO Tether Paolo Ardoino menyatakan perusahaannya telah membekukan USDT senilai lebih dari US$1,57 miliar. Sementara itu, CEO Circle Jeremy Allaire menyebut pihaknya membekukan lebih dari US$800 juta dalam bentuk USDC.
Stablecoin seperti USDT dan USDC memiliki mekanisme yang memungkinkan penerbitnya membekukan aset dalam kondisi tertentu. Karena itu, pelaku peretasan kerap berupaya menukar stablecoin ke aset kripto lain melalui platform terdesentralisasi.
Namun, pemindahan aset melalui bursa terdesentralisasi tidak serta-merta memastikan dana tersebut tidak dapat dibekukan atau dipulihkan.
Baca Juga
Bidik Ekspansi USDC di Negara Berkembang, Binance Suntik Rp 1,78 Triliun ke Circle
Binance Miliki Dana Perlindungan Pengguna
Sebelum insiden tersebut, Binance tercatat memiliki aset sekitar US$144 miliar di platformnya berdasarkan data DefiLlama. Nilai aset yang diduga dicuri setara dengan sekitar 4% dari total kepemilikan tersebut.
Binance juga memiliki dana perlindungan pengguna bernama Secure Asset Fund for Users (SAFU), yang dibentuk pada 2018 untuk menghadapi pelanggaran keamanan dan keadaan darurat lainnya. Dana SAFU dilaporkan memiliki nilai sekitar US$1 miliar dalam bentuk Bitcoin.
Meski demikian, Binance belum mengonfirmasi apakah dana SAFU akan digunakan untuk menangani insiden tersebut.
CZ mengakui potensi kerugian mungkin sedikit lebih besar dari perkiraan awal dan menyatakan perusahaan akan menanggung kerugian tersebut. CEO pembuat pasar kripto Wintermute, Evgeny Gaevoy, juga menyampaikan bahwa Binance memiliki cadangan dana yang cukup untuk menghadapi beberapa kali dampak insiden serupa.
Pada hari yang sama, penyedia pasar prediksi Polymarket juga mengumumkan adanya pembobolan terhadap salah satu penyedia pihak ketiganya. Namun, kerugian dari insiden tersebut dilaporkan kurang dari US$3 juta, jauh lebih kecil dibandingkan dugaan kerugian dalam kasus Binance.
