Batavia AM: Status Standalone MSCI Tak Berarti Investor Asing Hengkang
JAKARTA, investortrust.id – PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia AM) mengungkapkan sejumlah daya tarik pasar saham Indonesia di tengah ancaman penurunan status dari emerging market menjadi standalone market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Koreksi harga saham membuat valuasi pasar semakin murah, sementara sejumlah emiten menawarkan imbal hasil dividen (dividend yield) mencapai 10-15%.
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Rinaldi Lukita Handaya mengatakan, sebelum pengumuman MSCI, valuasi pasar saham Indonesia berada pada rasio price to earnings (PE) sekitar 9,5 kali. Setelah pasar terkoreksi sekitar 10%-15%, valuasi tersebut turun menjadi sekitar 8 kali.
Menurut Rinaldi, penurunan valuasi dan tingginya dividend yield menjadi daya tarik bagi investor, terutama investor ritel. Imbal hasil dividen sebesar 10-15% dinilai menarik jika dibandingkan dengan instrumen investasi lain, seperti deposito dan obligasi. Sebagian investor ritel masih melihat peluang di pasar saham Indonesia meskipun terdapat risiko perubahan klasifikasi pasar oleh MSCI.
Baca Juga
Pasca Pengumuman MSCI, Fitch Soroti Risiko Utang Indonesia dan Tekanan Rupiah
Pasalnya, perubahan status pasar tidak serta-merta mengubah fundamental perusahaan. “Buat mereka ya, even tanpa foreign investor, sebenarnya fundamental dari perusahaannya kan nggak berubah. Yang berubah kan investornya, siapa yang bisa investasi. Tapi, sebenarnya fundamental dari perusahaan yang membagikan dividend itu nggak berubah,” kata Rinaldi kepada investortrust.id di Kantor Batavia AM, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Standalone Tak Berarti Hengkang
Rinaldi menjelaskan, jika Indonesia tetap berstatus Emerging Market, investor asing yang sebelumnya keluar berpeluang kembali masuk ke pasar saham domestik. Sebaliknya, jika Indonesia turun menjadi Standalone Market, sebagian investor pasif yang mengikuti indeks berpotensi keluar dari pasar saham Indonesia. Meski demikian, perubahan klasifikasi tersebut bukan berarti seluruh investor asing akan meninggalkan pasar domestik.
“Jadi, bukan berarti kita dengan kita standalone market itu jadi no foreign investor sama sekali, nggak ada yang beli. Beda, yang beli mungkin ada tapi mungkin different type of investor,” tegas Rinaldi.
Dengan demikian, menurut Rinaldi, perubahan status pasar dapat memengaruhi jenis investor yang berinvestasi di Indonesia, tetapi tidak secara otomatis mengubah fundamental emiten yang tercatat di bursa.
Baca Juga
MSCI Usulkan Indonesia Keluar dari Emerging Market Jadi Standalone Market
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi mengatakan, setiap klasifikasi pasar memiliki kelompok investornya masing-masing, baik Emerging Market, Frontier Market, maupun Standalone Market.
Namun, skala investasi cenderung mengecil seiring dengan penurunan kategori pasar. “Jadi, emerging market punya investornya sendiri, frontier market punya investornya sendiri, standalone market juga punya investornya sendiri. Of course magnitude-nya kecenderungannya mengecil makin ke bawah gitu ya,” kata Lilis.
Lilis juga menyoroti pergerakan dana asing di tengah ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia. Ia menyebutkan, investor asing mencatatkan arus keluar dana (outflow) sekitar Rp2 triliun pada paruh pertama perdagangan. Namun, arus keluar tersebut mulai mereda pada paruh kedua perdagangan. Bahkan, investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia pada hari tersebut, meskipun saham yang dibeli berbeda.
