Saham BRI (BBRI) Rebound 6,3%, IHSG Terangkat 135 Poin! Target Harga Masih Rp 4.100
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akhirnya rebound dan berperan mengerek indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 135 poin (2,75%) menjadi 5.135 hingga pukul 11.00 WIB.
Sedangkan saham BBRI berhasil rebound sebanyak Rp 160 (6,30%) menjadi Rp 2.700. Saham bank pelat merah dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar ini mencatatkan nilai transaksi Rp 1 triliun atau terbesar kedua di BEI untuk pagi ini.
Meski menunjukkan rebound pesat pagi ini, harga saham BBRI saat ini masih jauh di bawah target sejumlah analis. Di antaranya, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.100.
Baca Juga
Saham BRI (BBRI) Makin Murah, Dividend Yield 13,6% dan PBV Tinggal 1,2 Kali
Begitu juga dengan MNC Sekuritas dalam riset terakhirnya masih memberikan pandangan positif terhadap saham BBRI. Saham ini direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.050.
Sebelumnya, pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono menilai, potensi dividend yield dua digit tersebut tergolong tinggi untuk bank berskala besar. Berdasarkan perhitungan trailing twelve months (TTM), dividend yield BBRI berada di kisaran 10,06%–13,62%, bergantung pada basis perhitungan yang digunakan.
“Dividend yield tunda atau berbasis trailing twelve months (TTM) melonjak ke kisaran 10,06% hingga 13,62%, tergantung basis perhitungan EPS atau annualized saat ini. Angka yield dua digit ini tergolong sangat tinggi untuk ukuran bank berskala besar,” ujar Wahyu kepada Investortrust.id, Senin (19/10/2026).
Baca Juga
BBCA-BBRI-BMRI Berdarah-darah, Saham Bank Murah atau Jebakan Maut?
Dengan asumsi DPS Rp 346, pembelian saham BBRI pada harga Rp 2.700. menghasilkan dividend yield sekitar 12,81%. Selain potensi dividen, koreksi harga saham BBRI membuat valuasinya relatif murah dibandingkan rata-rata historis. Rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) berada di kisaran 1,20–1,21 kali, jauh di bawah rata-rata historis sebesar 2,5–3 kali.
Adapun kapitalisasi pasar BBRI berada di kisaran Rp 384,96 triliun yang tetap menempatkan bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tersebut sebagai salah satu emiten berkapitalisasi besar (blue chip) dengan bobot signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Wahyu menilai, potensi dividend yield BBRI pada harga saham saat ini lebih tinggi dibandingkan imbal hasil sejumlah instrumen keuangan konvensional di pasar domestik.
Baca Juga
Memahami Empat Klasifikasi MSCI: Mengapa Emerging dan Standalone Sangat Berbeda?
Sebagai perbandingan, bunga deposito rupiah bank umum berada di kisaran 3%–4,5% per tahun, sebelum memperhitungkan pajak penghasilan final. “Yield BBRI yang potensial menyentuh double-digit tentu jauh melampaui tingkat bunga deposito,” ujarnya.
Sementara itu, kupon Surat Berharga Negara (SBN), seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) atau sukuk ritel pada penerbitan periode-periode terakhir, berada di kisaran 6–6,5% per tahun. “Meskipun SBN memiliki jaminan penuh dari negara dan bebas risiko gagal bayar, potensi yield BBRI secara persentase masih lebih tinggi, meski memiliki risiko fluktuasi harga modal (capital loss),” kata Wahyu.
