IHSG Masih Berisko Lanjutkan Penurunan Hari Ini, Bakal ke Bawah Level 5.000?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/10/2026), masih berisiko lanjutkan pelemahan dengan rentang pergerakan 5.100-5.200. Tiga saham MYOR, ACES, dan INDF direkomendasikan beli.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa volatilitas berpotensi tetap tinggi, seiring kekhawatiran investor terhadap risiko capital outflow dan ketidakpastian klasifikasi MSCI. Perhatian juga tertuju pada langkah BEI dan OJK dalam memperkuat transparansi, integritas, serta kredibilitas pasar modal. “Selama belum ada kejelasan yang meredakan kekhawatiran tersebut, tekanan terhadap IHSG dan rupiah masih perlu diwaspadai,” tulisnya.
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, IHSG mengalami breakdown tajam dari pola head & shoulders setelah gagal bertahan di atas neckline psikologis 6.000. MACD menunjukkan momentum bearish yang menguat, dengan garis MACD berada di bawah signal line dan histogram negatif semakin melebar.
Pola ini menjadikan level support psikologis IHSG menjadi 5.100 dan selanjutnya turun ke 4.954 sebagai support Fibonacci. Sementara itu, 5.200 menjadi resistance awal yang perlu ditembus untuk meredakan tekanan jual. “Selama belum mampu kembali ke atas area tersebut, risiko pelemahan lanjutan masih dominan,” tulisnya.
Baca Juga
Transaksi ISEF 2026 Tembus Rp 13,8 Miliar, Business Deal Capai Rp 3,2 Triliun
Laju IHSG juga akan dipengaruhi faktor global penurunan tajam pasar saham Wall Street akhir pekan lalu, seperti Dow Jones jatuh 0,34%. Penurunan juga melanda Nasdaq 2,14% dan S&P500 melemah 1,09%. Begitu juga dengan harga minyak dunai mengalami lompatan.
Terkait saham pilihan, BRI Danareksa Sekuritas, merekomendasikan beli saham MYOR dengan target harga Rp 1.400-1.445, ACES dengan target harga Rp 336-348, dan INDF dengan target harga Rp 6,750-6.950.
Akhir pekan lalu, IHSG ditutup jatuh sebanyak 678,68 poin (11,57%) menjadi 5.185, bahkan BEI sempat terapkan trading halt selama 30 menit. Level tersebut menjadi yang terendah sejak Oktober 2026 dan menjadi penurunan terbesar terhitung sejak krisis moneter tahun 1998. Pemodal asing berlomba-lomba keluar dari pasar saham Indonesia ditunjukkan dengan torehan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 3,34 triliun. Net sell terbanyak disumbangkan saham BBCA mencapai Rp 2,32 triliun dan BBRI mencapai Rp 1,14 triliun.
Baca Juga
Prabowo Approval Rating Fractures Along Economic Fault Lines Ahead of Two-Year Mark
Penurunan ini juga sejalan dengan kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor material dasar anjlok 13,36%, sektor infrastruktur turun 13%, sektor kesehatan jatuh 13,16%, sektor industry melemah 11,89%, sektor energi turun 11,39%, sektor konsumer primer melemah 11,12%, sektor konsumer non primer anjlok 10,11%, sektor transportasi turun 10,91%, sektor property melemah 9,63%, sektor keuangan melemah 8,98%, dan sektor teknologi turun 8,88%.
Penurunan tajam IHSG sejalan dengan kejatuhan mayoritas saham big cap hingga auto reject bawah (ARB), seperti BBCA, BBRI, BREN, BMRI, TPIA, ASII, TLKM, dan MORA. Saham ASII dan DCII tidak terkena ARB. Sebaliknya saham BYAN justru menguat.
Adapun tiga saham berikut justru berhasil menguat dengan catatkan auto reject atas (ARA), seperti saham BSWD naik 25% menjadi Rp 5.625, ABDA melesat 24,93% menjadi Rp 4.710, dan TRUK naik 24,81% menjadi Rp 3.220. Lompatan juga melanda saham PTSP sebanyak 20,72% menjadi Rp 2.010.
