MSCI Bisa Tekan Pasar SBN, Analis Rekomendasikan Akumulasi Bertahap Tenor Pendek
JAKARTA, investortrust.id – Perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia menjadi standalone market oleh MSCI berpotensi menekan pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui perubahan sentimen dan arus modal asing. Di tengah risiko tersebut, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai SBN, terutama tenor pendek, menarik untuk diakumulasi secara bertahap.
Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menjelaskan bahwa memburuknya sentimen terhadap Indonesia dapat meningkatkan premi risiko, menekan nilai tukar Rupiah, serta mendorong investor asing mengurangi eksposur pada berbagai aset domestik, termasuk SBN.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap pasar keuangan domestik perlu dicermati. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun dilaporkan mencapai 7,33% pada pembukaan pasar, sementara nilai tukar Rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS.
Baca Juga
Bos Danantara Sebut Valuasi Emiten BUMN Rendah, Fundamental Tetap Kuat
Menurut Jessica, pergerakan tersebut menunjukkan tekanan pasar yang masih perlu diwaspadai. Kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,24% ketika yield US Treasury sebelumnya turun juga mengindikasikan adanya tekanan domestik tambahan.
“Kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,24% ketika yield US Treasury turun sebelumnya juga mengindikasikan adanya tekanan domestik tambahan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah risiko nilai tukar. Jika sentimen MSCI memburuk dan mendorong investor mengurangi kepemilikan aset domestik, konversi dana ke valuta asing dapat menambah tekanan terhadap rupiah,” jelas Jessica pada Jumat (16/10/2026).
Meningkatnya persepsi risiko juga dapat mendorong investor meminta yield SBN yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko investasi. Selain itu, pelemahan Rupiah yang berlanjut berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), sehingga penurunan yield domestik dapat tertahan meskipun kondisi pasar global membaik.
Akumulasi Bertahap
Di tengah volatilitas pasar, Mirae Asset menilai tingkat yield SBN saat ini menarik untuk diakumulasi secara bertahap, terutama pada instrumen berjangka pendek.
Daya tarik tersebut didukung oleh pelebaran kembali selisih yield antara US Treasury dan obligasi pemerintah Indonesia (UST-INDOGB spread) hingga di atas 200 basis poin.
Meski menawarkan imbal hasil yang menarik, investor tetap perlu memperhitungkan risiko pelemahan Rupiah dan ketidakpastian arus modal. Bagi investor asing, pelemahan nilai tukar dapat menggerus imbal hasil investasi SBN sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan BI. “Bagi investor asing, pelemahan Rupiah dapat menggerus imbal hasil investasi SBN serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan BI dan menahan penurunan yield,” tambah Jessica.
Baca Juga
Penerbitan Surat Utang Korporasi Terkontraksi 12,75%, Jadi Rp 139,65 Triliun
Mirae Asset menyarankan investor lebih selektif terhadap obligasi berdurasi panjang yang lebih sensitif terhadap perubahan yield. Dalam kondisi saat ini, preferensi investasi diarahkan pada SBN tenor pendek hingga menengah.
Investor juga perlu terus memantau perkembangan MSCI, stabilitas Rupiah, serta arus dana asing dan domestik sebagai pertimbangan dalam menentukan strategi investasi selanjutnya.
