Jhonlin Akuisisi Saham BYAN Pakai Utang Rp26,1 Triliun, Mirae Asset Soroti Risiko Ini
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti risiko pembayaran utang PT Jhonlin Baratama untuk mengakuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai Rp 26,1 triliun. Meski dividen BYAN berpotensi menjadi sumber pembayaran pinjaman, kemampuan Jhonlin melunasi utang masih bergantung pada kebijakan dividen dan kondisi bisnis batu bara.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menjelaskan bahwa penilaian risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dari pembiayaan tersebut perlu mempertimbangkan kemampuan debitur membayar utang, bukan hanya nilai aset yang dijadikan jaminan. “Setelah transaksi, Jhonlin Baratama memegang 30,25% saham BYAN. Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar US$960 juta per tahun, termasuk US$500 juta untuk tahun buku 2025,” kata Nurkholis dalam keterangan resminya, Rabu (14/10/2026).
Baca Juga
Haji Isam Tuntaskan Akuisisi 30,25% Saham Bayan (BYAN) Rp 26,1 Triliun dari Low Tuck Kwong
Dengan kepemilikan 30,25% saham BYAN, Jhonlin secara historis berpotensi memperoleh dividen sekitar US$ 290 juta per tahun. Nilai tersebut setara dengan imbal hasil dividen sekitar 20% terhadap asumsi pembiayaan sebesar Rp26,1 triliun atau sekitar US$ 1,45 miliar yang seluruhnya berasal dari utang. Adapun asumsi biaya pinjaman berada di level 8%.
Nurkholis menjelaskan, dividen BYAN berpotensi membantu Jhonlin membayar cicilan pinjaman selama tujuh hingga delapan tahun. Namun, kemampuan tersebut tetap bergantung pada besaran dividen yang dibagikan perusahaan. “Dengan struktur cicilan selama 7–8 tahun, dividen rata-rata BYAN berpotensi menopang pelunasan pinjaman. Beban bunga tahunan sekitar US$116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh dividen rata-rata lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Sementara itu, cicilan tahunan sebesar US$252–US$279 juta dapat ditutup sekitar 1,04–1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun,” terang Nurkholis.
Risiko Utang Jhonlin
Kemampuan pembayaran utang tersebut turut didukung kinerja keuangan BYAN. Pada semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$410 juta, tumbuh 17% secara tahunan. BYAN juga memiliki kas sebesar US$934 juta.
Meski demikian, Mirae Asset menilai ruang pengaman pembayaran utang masih terbatas. Jika menggunakan rata-rata dividen BYAN selama periode 2023–2025 sebesar US$667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan hanya mencapai 0,72–0,80 kali. DSCR merupakan rasio yang mengukur kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran utang dari dana yang tersedia. Rasio di bawah satu kali menunjukkan bahwa sumber dana yang diperhitungkan belum cukup untuk menutup seluruh kewajiban pembayaran utang.
Baca Juga
Usai Saham JARR, Haji Isam Gadaikan 2,2 Miliar Saham PGUN ke Bank Mandiri
Dalam skenario tersebut, BYAN perlu membagikan dividen minimal sekitar US$830 juta per tahun agar DSCR berada di atas satu kali. “Risiko juga berasal dari kebijakan dividen BYAN. Jhonlin tidak menerima dividen tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen, mengingat keluarga Low masih memegang sekitar 32% saham BYAN. Selain itu, risiko terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta kondisi force majeure dapat menambah ketidakpastian terhadap arus kas dan kemampuan pembayaran utang,” ujar Nurkholis.
Mirae Asset menambahkan, sejumlah mekanisme pembiayaan, seperti gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen, dan cadangan pembayaran utang, dapat membantu mengelola risiko. Namun, pembayaran pinjaman tetap bergantung pada arus kas dan siklus bisnis batu bara.
