Harga Bitcoin Dibayangi Data Inflasi AS, Level US$ 85.000 Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) menghadapi ujian pekan ini menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Investor akan mencermati data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Awal pekan ini, BTC masih di bawah level US$85.000.
Mengutip data CoinMarketCap, Senin (12/10/2026) pukul 09.58 WIB harga Bitcoin tercatat US$83.728 naik 0,88% dalam sehari. Data inflasi AS berpotensi memengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, ekspektasi suku bunga, dan permintaan terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Namun, pergerakan Bitcoin tidak hanya ditentukan oleh satu indikator ekonomi.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) dijadwalkan merilis data CPI September pada Rabu (14/10/2026). Pasar memperkirakan inflasi utama mencapai sekitar 3,7% secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan inflasi inti diproyeksikan sebesar 2,5%.
Pada Agustus, CPI AS naik 0,4% secara bulanan (month on month/mom) dan 3,4% secara tahunan. Kenaikan harga energi, termasuk bensin yang meningkat 3,9% secara bulanan, turut berkontribusi terhadap tekanan inflasi. Sementara itu, CPI inti tercatat tumbuh 2,4% secara tahunan.
Data terbaru tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed pada pertemuan 27–28 Oktober. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, sedangkan inflasi yang lebih rendah dapat mendukung perkiraan bahwa suku bunga akan dipertahankan.
Selain CPI, pelaku pasar juga akan mencermati laporan Beige Book The Fed yang memuat gambaran kondisi ekonomi regional, termasuk konsumsi, tenaga kerja, upah, investasi bisnis, dan harga.
Baca Juga
Didukung CEO OpenAI, Perusahaan Asuransi Jiwa Berbasis Bitcoin Raup Pendanaan US$ 37,5 Juta
Data PPI dan Penjualan Ritel Menambah Tekanan
Perhatian pasar berlanjut pada Kamis (15/10/2026) melalui rilis data PPI September, penjualan ritel, dan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan.
Pada Agustus, harga produsen untuk permintaan akhir meningkat 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan. Harga barang naik 1,1% dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan tekanan harga pada tingkat produsen masih berlangsung.
Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai tekanan biaya bahan baku, transportasi, dan jasa terhadap harga konsumen. Penjualan ritel yang kuat di tengah inflasi tinggi juga berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat. Sebaliknya, perlambatan belanja konsumen dan inflasi yang lebih rendah dapat meningkatkan perhatian terhadap daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi.
Baca Juga
Thailand Berlakukan Aturan ETF Bitcoin dan Ethereum Mulai 16 Oktober
Bitcoin Menguji Level US$ 85.000
Di tengah penantian data ekonomi, level US$85.000 menjadi perhatian pelaku pasar Bitcoin. Data CoinMarketCap yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan harga Bitcoin berada di US$83.044,41, masih di bawah ambang tersebut.
Sejumlah pelaku pasar turut menyoroti arah pergerakan Bitcoin. Akun Bitcoin Hopium membandingkan kondisi pasar saat ini dengan tahap awal reli pada 2023 serta menyoroti potensi penurunan penjualan obligasi jangka panjang AS sebagai faktor yang dapat memengaruhi imbal hasil dan permintaan aset kripto.
Sementara itu, akun The Crypto Johannes memperingatkan bahwa pemulihan Bitcoin hingga melampaui US$85.000 telah mendorong indikator Seller Exhaustion ke wilayah yang sebelumnya dikaitkan dengan puncak pasar lokal. Indikator tersebut menjadi salah satu sinyal yang dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan koreksi harga.
Dengan rilis CPI dan PPI AS pada pekan ini, pelaku pasar akan mencermati perkembangan inflasi dan ekspektasi kebijakan The Fed untuk menilai peluang pemulihan Bitcoin menuju US$85.000 maupun risiko tekanan harga lebih lanjut.
