Saham BBCA Makin Tertekan hingga Diobral Asing Usai Rumor Haji Isam, Masih Menarik Dipertahankan?
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus tertekan dan telah merosot 9,36% dalam sebulan terakhir hingga menyentuh level Rp 6.050 per saham pada perdagangan intraday sesi I, Rabu (7/10/2026). Pelemahan tersebut terjadi di tengah net sell investor asing yang mencapai Rp 2,58 triliun dalam sebulan terakhir atau saat pasar diramaikan isu Haji Isam akan mengakuisisi saham BBCA.
Penurunan saham BBCA juga berlangsung di tengah tekanan aksi jual di pasar saham domestik, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. Pergerakan saham BBCA juga menjadi perhatian pasar di tengah isu Haji Isam akan mengakuisisi saham BBCA. Tekanan harga saham BBCA dalam sebulan terakhir terjadi bersamaan dengan derasnya aksi jual investor asing di saham-saham berkapitalisasi besar.
Baca Juga
Meski harga saham BBCA tertekan selama sebulan terakhir, sejumlah analis masih mempertahankan rekomendasi beli terhadap BBCA dengan target harga di kisaran Rp 7.300-8.600 per saham. BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terakhirnya masih mempertahankan rekomendasi beli BBCA dengan target harga Rp 8.600. Target tersebut ditopang oleh fundamental perseroan, terutama tren margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang kembali menguat serta biaya kredit (credit cost) yang tetap terkendali.
Rekomendasi ini mempertimbangkan kinerja dan operasional BBCA yang masih bertumbuh. Pada Agustus 2026, laba bersih BBCA mencapai Rp 4,9 triliun, turun 3% secara bulanan, tetapi masih tumbuh 13% secara tahunan. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BBCA tumbuh 1% secara bulanan dan 8% secara tahunan menjadi Rp 7,1 triliun. Sementara itu, NIM meningkat 8 basis poin secara bulanan menjadi 5,8%. Kenaikan tersebut didorong earning asset yield yang meningkat 5 basis poin secara bulanan dan 2 basis poin secara tahunan. Adapun cost of fund (CoF) relatif stabil di level 1,1%.
Dari sisi penyaluran kredit, kredit BBCA tumbuh 2% secara bulanan dan 11% secara tahunan menjadi Rp 1.018 triliun pada Agustus 2026. Dana pihak ketiga (customer deposits) relatif datar secara bulanan, tetapi masih tumbuh 8% secara tahunan menjadi Rp1.257 triliun. Hingga Agustus 2026, BBCA membukukan laba bersih bank only sebesar Rp 40,2 triliun, tumbuh 3% secara tahunan. Realisasi tersebut setara dengan 66% dari proyeksi BRI Danareksa Sekuritas untuk tahun buku 2026 dan 67% dari konsensus.
Baca Juga
BRI Danareksa Sekuritas menilai kinerja BBCA pada Agustus 2026 secara keseluruhan neutral, karena perbaikan NIM dan biaya kredit yang terkendali diimbangi kenaikan biaya operasional serta melemahnya pendapatan operasional lainnya.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam riset yang disusun Kresna Hutabarat dan Omar Abdulaziz juga menyoroti perbaikan NIM BBCA. Pada Agustus 2026, NIM bulanan BBCA disebut kembali ke level 6% setelah sembilan bulan berturut-turut berada di bawah level tersebut. Hal ini mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 6.400.
