IHSG Berpeluang Melemah Awal Pekan Ini, Sebaliknya Saham HRTA hingga ENRG Layak Dicermati
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin 928/9/2026), diproyeksikan lanjutkan penurunan dengan rentang pergerakan 6.220-6.400. Tiga saham pilihan hari ini adalah HRTA, UVCR, dan ENRG.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa pergerakan indeks akan focus terhadap sentimen implementasi kebijakan BEI terkait penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp 1. Kebijakan ini diharapkan memperluas ruang perdagangan dan meningkatkan kualitas pembentukan harga, terutama bagi saham yang selama ini stagnan di batas minimum.
Baca Juga
Kapitalisasi Altcoin Tembus Rp 6.640 Triliun, Sinyal Momentum Mulai Dicermati
Namun, perubahan tersebut juga berpotensi meningkatkan volatilitas pada saham berharga rendah. Dari eksternal, pasar masih mencermati yield US Treasury 10Y yang berada di atas 5% serta harga minyak yang tinggi di tengah kekhawatiran inflasi global.
“Secara teknikal, IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji support 6.200–6.220. Pergerakan selanjutnya akan mencermati reaksi indeks di area support serta dampak implementasi kebijakan baru BEI terhadap volatilitas pasar,” tulisnya.
Di tengah peluang pergearkan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham HRTA dengan target harga Rp 2.350-2.460, saham UVCR dengan target harga Rp 204-212, dan ENRG dengan target harga Rp 1.385-1.460.
Baca Juga
Ketika Presiden Mulai Mendengarkan Masukan dari Otoritas Fiskal, Keuangan, dan Moneter
IHSG sepanjang pekan lalu ditutup tergerus hingga 199,26 poin atau 3,09% menjadi 6.241. Penurunan tersebut memicu menguapnya kapitaliasi pasar saham hingga Rp 361 triliun. Penurunan indeks juga disertai dengan penjualan bersih (net sell) saham hingga Rp 3,15 triliun.
Penurunan indeks tersebut dipicu atas pelemahan sejumlah saham kapitalisasi pasar besar, seperti BYAN sebanyak 12,48%, BBRI 4,83%, BMRI mencapai 4,23%, TLKM sebanyak 5,86%, dan BRMS mencapai 8,33%.
Pelemahan indeks pekan lalu juga dipicu atsa kejatuhan seluruh sektor saham, terbesar kejatuhan sektor industry 5,48%, sektor infrastruktur 4,10%, sektor konsumer non primer 3,50%, sektor teknologi 3,96%, dan sektor keuangan 2,41%.
