‘Data Center’ RI Jadi Katalis Indosat (ISAT), BRI Danareksa Pasang Target Rp 3.430
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Indosat Tbk (ISAT) berpotensi mendapat katalis positif dari pertumbuhan industri data center di Indonesia yang memiliki prospek cerah. BRI Danareksa Sekuritas memasang target harga ISAT di level Rp 3.430 dengan rekomendasi buy.
Dalam risetnya, BRI Danareksa menyebutkan, permintaan data center di Indonesia terus meningkat. Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat permintaan data center mencapai hingga 2 gigawatt (GW), jauh lebih besar dibandingkan kapasitas data center yang sudah beroperasi di kawasan Greater Jakarta sekitar 400 megawatt (MW) pada 2025.
Menurut BRI Danareksa, kondisi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan industri data center Indonesia masih besar. Peluang ini juga semakin terbuka jika pembangunan data center di negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand, mengalami pembatasan.
Baca Juga
Fitch Pertahankan Rating Indosat (ISAT) di AAA(idn), Outlook Stabil
Meski permintaannya tinggi, pengembangan data center masih menghadapi kendala jaringan listrik. JLL menilai masalah utama bukan pada kemampuan pembangkit listrik, melainkan koneksi dan distribusi listrik ke lokasi data center.
Untuk mengatasi hal tersebut, PT PLN (Persero) berencana membangun gardu induk baru di Karawang, Purwakarta, dan Subang dengan total kapasitas sekitar 2 GW. Infrastruktur tersebut ditargetkan siap digunakan pada 2028-2029.
BRI Danareksa menilai perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) juga akan mendorong peningkatan kebutuhan data center. Pasalnya, penggunaan GPU (graphics processing unit) untuk AI membutuhkan daya listrik yang jauh lebih besar dibandingkan data center konvensional.
Baca Juga
Arsari Group dan Indosat (ISAT) Luncurkan RAIA Grid, Bidik Infrastruktur AI Indonesia
Kebutuhan daya pada rak server tradisional berada di kisaran 5-10 kilowatt (kW). Sementara itu, rak yang menggunakan GPU untuk AI membutuhkan 30-40 kW dan dapat mencapai 60-100 kW untuk sistem AI dengan pendingin berbasis cairan.
Selain listrik, kebutuhan air juga menjadi faktor penting dalam pembangunan data center. Satu fasilitas data center AI dapat membutuhkan sekitar 6.000-15.000 meter kubik air per hari. Kondisi ini membuat kawasan industri dengan fasilitas pengolahan air sendiri menjadi lokasi yang banyak dipilih untuk pembangunan data center berskala besar.
BRI Danareksa menilai meski terdapat sejumlah tantangan, prospek bisnis data center Indonesia tetap positif seiring pertumbuhan permintaan. Namun, perkembangan teknologi GPU yang cepat dan perubahan regulasi menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
