Menakar Prospek Saham DSSA Jelang Beroperasinya Data Center SMX01 Investasi US$ 300 Juta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bersiap mengoperasikan fasilitas data center hyperscale teranyarnya, SMX01, pada kuartal IV-2026. Megaproyek senilai US$ 300 juta yang dikembangkan melalui perusahaan patungan (joint venture) dengan LG di Jakarta ini merupakan langkah agresif perseroan untuk menangkap peluang emas dari lonjakan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan cloud di Tanah Air.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya hari ini menyebutkan bahwa langkah ekspansif ini semakin memperkuat portofolio DSSA yang saat ini tercatat telah mengoperasikan 24 edge data center yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan total kapasitas gabungan mencapai 10 Megawatt (MW).
Baca Juga
NeutraDC Gandeng PLN, Siapkan Ekspansi Hyperscale Data Center hingga 200 MW
Proyek SMX01 didesain secara khusus untuk memenuhi tuntutan teknologi masa depan. Fasilitas ini diposisikan sebagai data center yang siap mendukung kebutuhan kecerdasan buatan (AI-ready). Untuk menunjang beban kerja AI dengan kepadatan tinggi (high-density AI workloads), SMX01 dilengkapi dengan teknologi liquid cooling canggih serta dirancang dengan standar keamanan tinggi Tier IV.
Dengan target mencapai status ready for service (RFS) pada kuartal IV-2026, tahap 1 data center ini akan menyediakan kapasitas IT sebesar 18 MW dan akan terus dikembangkan hingga mencapai total 60 MW.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, meski hingga kini belum ada penyewa (tenant) yang diumumkan secara publik, SMX01 tampaknya akan menerapkan model merchant data center. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan proyek tidak bergantung secara khusus pada keberadaan penyewa utama (anchor tenant) yang berkomitmen di awal.
Baca Juga
Kejar Indeks Global, Dian Swastatika (DSSA) Lepas 1,44 Miliar Saham Treasuri ke Pasar?
Ekspansi yang dilakukan DSSA sejalan dengan proyeksi pertumbuhan masif pasar data center di Indonesia. Total kapasitas IT terpasang di Tanah Air mencapai sekitar 580 MW pada semester I-2026. Sebanyak 55% dari kapasitas tersebut berlokasi di Jakarta.
Riset BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan angka ini akan melonjak tajam menjadi 3,5 Gigawatt (GW) pada tahun 2030, atau mencatatkan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 56,7% sepanjang 2026-2030F. Pembangunan kapasitas besar-besaran ini didorong oleh tingginya permintaan infrastruktur cloud dan AI yang padat GPU.
Selain itu, Indonesia diuntungkan dengan posisinya sebagai limpahan data center regional. Hal ini terjadi menyusul adanya pembatasan kapasitas baru di Singapura melalui rezim DC-CFA, serta keterbatasan pasokan listrik di Johor sebagai lokasi limpahan (overflow node) pertama.

