Jelang Rilis Laporan Kinerja Kuartal II-2026, Analis Optimistis GOTO Pertahankan Laba
JAKARTA, investortrust.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dijadwalkan merilis kinerja keuangan kuartal II sekaligus Semester I 2026 pada 29 Juli 2026. Laporan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar setelah Perseroan berhasil membukukan laba bersih untuk pertama kalinya pada kuartal I 2026.
Selain kinerja keuangan, investor mencermati pergerakan harga saham GOTO yang masih bertahan di level Rp 50 per saham. Analis MNC Sekuritas Christian menilai bahwa tekanan terhadap harga saham GOTO dalam beberapa bulan terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen makro dibandingkan perubahan fundamental bisnis Perseroan.
Menurutnya, arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia, potensi keluarnya GOTO dari indeks MSCI, serta implementasi kebijakan komisi ojek online (ojol) sebesar 8% menjadi faktor yang membebani sentimen investor.
Baca Juga
GOTO Diprediksi Tetap Cetak Laba Tahun Ini Meski Kebijakan Komisi 8%, Bagaimana Target Sahamnya?
"Pelemahan harga saham GOTO lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan sentimen pasar. Fundamental operasional perusahaan masih menunjukkan tren perbaikan sehingga pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi bisnis saat ini," ujar Christian.
Meski dihadapkan pada berbagai sentimen tersebut, Christian tetap optimistis GOTO mampu mempertahankan momentum profitabilitas pada kuartal II 2026. Ia menjelaskan, implementasi kebijakan komisi ojol 8% baru efektif berlaku mulai 1 Juli 2026 untuk layanan transportasi roda dua penumpang. Dengan demikian, dampaknya belum akan tercermin dalam laporan keuangan periode April hingga Juni 2026.
"Secara periode pencatatan, dampak kebijakan komisi ojol 8% baru harusnya mulai dirasakan pada kuartal III. Karena itu, kinerja kuartal II diperkirakan masih merefleksikan kondisi operasional sebelum implementasi kebijakan tersebut," jelas Christian.
Christian menambahkan, kebijakan komisi 8% juga tidak berdampak pada seluruh lini usaha GOTO karena hanya berlaku untuk layanan roda dua penumpang atau GoRide.
Baca Juga
GOTO Kantongi Restu Buyback Rp3,5 Triliun, Susunan Direksi dan Komisaris Tetap
Menurutnya, GOTO masih memiliki sumber pendapatan lain dari layanan pengantaran makanan dan barang, serta bisnis financial technology (fintech) melalui GoPay yang terus berkembang. "Diversifikasi bisnis menjadi salah satu penyangga kinerja GOTO. Selain ODS, perusahaan memiliki bisnis delivery dan fintech yang kontribusinya semakin besar sehingga tekanan dari satu segmen tidak serta-merta menggerus keseluruhan kinerja grup," kata Christian.
Meski demikian, Christian menilai, perhatian investor setelah rilis laporan keuangan tidak hanya akan tertuju pada capaian laba kuartal II. Pasar juga akan mencermati proyeksi manajemen terkait dampak kebijakan komisi ojol 8% terhadap kinerja pada paruh kedua 2026 serta strategi yang ditempuh untuk menjaga profitabilitas.
Baca Juga
IHSG Sesi I Melemah Tipis 2,62 Poin, Sebaliknya Saham ALKA dan BAJA Melesat
"Yang akan menjadi perhatian utama adalah seberapa besar dampak kebijakan komisi ojol 8% terhadap kinerja ke depan serta langkah konkret manajemen dalam menavigasi perubahan tersebut, baik melalui efisiensi, optimalisasi insentif maupun strategi monetisasi di berbagai lini bisnis," ujar Christian.
Adapun hingga kuartal I-2026, GOTO mencatatkan sejarah baru setelah berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 171 miliar. Capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi Perseroan menuju profitabilitas.
