Melesat 250% dalam Lima Hari, Saham Proline (PRDL) Masuk UMA
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) atau Proline dalam status unusual market activity (UMA), menyusul lompatan harga hingga auto reject atas (ARA) berhari-hari.
Berdasarkan data perdagangan BEI, saham PRDL telah melambung sebanyak 250% dari Rp 120 menjadi Rp 424 dalam lima hari transaksi terakhir. Bahkan, saham PRDL catatkan kenaikan hingga ARA dalam lima hari terakhir.
Baca Juga
Sehubungan dengan kondisi tersebut, BEI tengah mencermati perkembangan pola transaksi saham PRDL. Namun demikian pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. BEI juga mengimbau para investor untuk tetap berhati-hati sebelum mengambil keputusan investasi.
Saham PRDL menggelar listing perdana di BEI sejak 9 Juli 2026. Saat listing perdana, saham PRDL dibuka langsung menyentuh batas auto reject Atas (ARA) dengan kenaikan 35% ke level Rp162 per saham.
Dalam penawaran umum perdana, PRDL melepas 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan harga pelaksanaan Rp 120, perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp62,75 miliar.
Baca Juga
Prospek Saham ASII dan AUTO Masih Cerah, Pemulihan Industri Otomotif Jadi Katalis
Direktur Utama PRDL Cristina Sandjaja mengatakan, perseroan merupakan pionir produsen reagen kimia dengan pengalaman produksi selama 14 tahun sejak Agustus 2012. Saat ini, PRDL memiliki lebih dari 1.083 SKU produk aktif yang menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota serta telah digunakan oleh lebih dari 7.600 pelanggan di Indonesia.
"Jaringan tersebut mencakup sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta puluhan institusi kesehatan lainnya. Lini produk utama PRDL juga memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70% sehingga memperkuat daya saing produk Perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan alat kesehatan nasional dan dominasi produk asing," ujar Cristina.

