Bitcoin Tembus US$ 62.000, Pasar Cermati Level Resistensi dan Arah Kebijakan The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat hingga menembus level US$ 62.000 pada perdagangan Sabtu (4/7/2026) dini hari waktu Asia. Penguatan didorong oleh akumulasi investor besar di tengah ekspektasi perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Bitcoin sempat menyentuh level US$ 62.310, tertinggi sejak 24 Juni 2026. Kenaikan tersebut terjadi meski produk exchange traded fund (ETF) Bitcoin spot di AS mencatat arus keluar (outflow) yang cukup besar.
Pelaku pasar menilai penguatan Bitcoin berlangsung secara bertahap dengan dukungan permintaan yang stabil. Namun, sejumlah analis memperkirakan aset kripto terbesar di dunia itu akan menghadapi zona resistensi penting di kisaran US$ 62.000 hingga US$ 62.500.
Baca Juga
Analis pasar yang dikenal dengan nama Exitpump menyebut kenaikan Bitcoin mencerminkan pola akumulasi yang terkendali di berbagai bursa, bukan didorong oleh lonjakan spekulatif. Meski demikian, kisaran US$ 62.000-US$ 62.500 dinilai menjadi area yang berpotensi menghambat penguatan lanjutan.
Sementara itu, analis Daan Crypto Trades menyoroti rata-rata pergerakan sederhana (simple moving average/SMA) 200 minggu yang berada di sekitar US$ 62.652 sebagai level teknikal penting. Menurutnya, Bitcoin perlu mampu mempertahankan posisi di atas level tersebut untuk menjaga tren bullish jangka pendek.
Di sisi makroekonomi, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Data nonfarm payrolls (NFP) pada Juni hanya bertambah 57.000 pekerjaan, di bawah ekspektasi pasar.
Baca Juga
Bitcoin Berpeluang Reli pada Juli Didukung Pola Historis dan Sinyal Teknikal
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar. Data ekonomi yang melambat dinilai dapat memperbesar peluang penurunan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Mosaic Asset Company menilai laporan ketenagakerjaan tersebut memberikan sinyal yang relatif positif bagi pasar keuangan karena cukup lemah untuk mendukung harapan pelonggaran kebijakan moneter, namun belum menunjukkan perlambatan ekonomi yang mengkhawatirkan. Kombinasi faktor tersebut turut menopang sentimen positif terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
