Asing Mulai Net Buy
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Setelah berbulan-bulan terus melakukan aksi jual, investor asing akhirnya mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Jumat (03/07/2026), investor asing membukukan net buy sebesar Rp6,08 miliar, mengakhiri rangkaian tekanan jual yang telah berlangsung sejak awal tahun. Meski nilainya masih sangat kecil, pembalikan arah ini menjadi sinyal awal bahwa minat investor global terhadap aset berisiko di Indonesia mulai pulih seiring membaiknya sentimen pasar domestik dan global.
Sejalan dengan masuknya dana asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 131,22 poin atau 2,28% ke level 5.875,78, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di 5.899,30. Penguatan tersebut menjadi salah satu kenaikan harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir dan memperlihatkan mulai pulihnya kepercayaan pelaku pasar terhadap saham-saham Indonesia.
Meski demikian, aksi beli pada Jumat itu belum mampu menghapus arus keluar dana asing yang sangat besar sepanjang tahun. Secara kumulatif hingga 3 Juli 2026, investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp74,42 triliun atau sekitar US$4,14 miliar, salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Penguatan IHSG kali ini didorong oleh pembelian pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks dengan kontribusi 22,11 poin, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 9 poin, PT Astra International Tbk (ASII) sebesar 9,39 poin, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar 6,47 poin, serta saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Baca Juga
IHSG Ditutup Naik Signifikan 2,28%, Tujuh Saham Dipimpin KOKA Cetak ARA
Dari sisi nilai transaksi, BBCA juga menjadi saham yang paling banyak diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp1,25 triliun, disusul DSSA Rp626 miliar, BBRI Rp603 miliar, MGLV Rp503 miliar, serta TPIA Rp466 miliar. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa investor mulai kembali mengakumulasi saham-saham unggulan yang sebelumnya mengalami koreksi tajam.
Secara keseluruhan, nilai transaksi saham mencapai Rp10,54 triliun dengan volume perdagangan 17,15 miliar saham dalam 1,36 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi Rp10.287 triliun.
Kenaikan IHSG berlangsung hampir merata di seluruh indeks utama. Indeks LQ45 naik 2,88%, IDX30 menguat 2,68%, IDX High Dividend 20 melonjak 2,94%, sementara indeks SRI-KEHATI naik 3,03%. Hampir seluruh sektor juga ditutup di zona hijau, dipimpin sektor industri yang melonjak 3,61%, bahan baku naik 3,24%, dan keuangan menguat 1,37%.
Perbaikan sentimen domestik juga ditopang oleh menguatnya bursa-bursa global. Pasar saham Korea Selatan (KOSPI) melonjak 5,76% pada hari yang sama, sementara Nikkei Jepang naik 1,47%, Hang Seng Hong Kong menguat 1,28%, dan Dow Jones Industrial Average di Amerika Serikat sebelumnya ditutup naik 1,14%. Kondisi tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko di kawasan Asia.
Meski IHSG menguat tajam, kinerja pasar saham Indonesia sepanjang 2026 masih menjadi salah satu yang terburuk di dunia. Hingga 3 Juli 2026, IHSG masih terkoreksi 32,05% secara year-to-date (YTD). Di kawasan ASEAN, hanya Indonesia yang masih membukukan penurunan sedalam itu, sementara Thailand telah menguat 27,91%, Singapura naik 12,87%, Vietnam menguat 4,59%, dan Filipina bertambah 2,23%.
Analis menilai net buy asing pada perdagangan Jumat belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren arus modal telah benar-benar berbalik. Nilainya masih sangat kecil dibandingkan akumulasi net sell sepanjang tahun. Namun, jika pembelian asing berlanjut dalam beberapa hari ke depan, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa valuasi saham Indonesia yang kini semakin murah mulai menarik perhatian investor global.
Optimisme itu juga didukung oleh membaiknya stabilitas makroekonomi. Inflasi Indonesia masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia, nilai tukar rupiah relatif lebih stabil dibanding beberapa pekan sebelumnya, sementara imbal hasil obligasi pemerintah mulai menarik kembali minat investor asing. Di sisi lain, Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
Pelaku pasar kini menantikan apakah aksi beli asing pada awal Juli ini hanya merupakan technical rebound setelah koreksi panjang, atau menjadi awal dari kembalinya arus modal asing ke pasar saham Indonesia. Jika didukung oleh stabilitas rupiah, perbaikan fundamental ekonomi, serta meredanya ketidakpastian global, peluang terjadinya capital inflow yang lebih besar pada semester II 2026 semakin terbuka.
