Mitratel (MTEL) Dorong Konsolidasi Industri Tower, Buka Opsi Merger dan Akuisisi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel tengah membuka peluang konsolidasi dengan empat emiten infrastruktur telekomunikasi lainnya. Konsolidasi dinilai sangat dibutuhkan, seiring rampungnya konsolidasi operator telekomunikasi dan juga bertujuan untuk menciptakan efisiensi.
Empat emiten infrastruktur telekomunikai tersebut, yaitu PT Tower Bersama INfrastrukture Tbk (TBIG), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI).
Direktur Investasi Mitratel (MTEL) Hendra Purnama mengatakan, konsolidasi melalui merger atau akuisisi industri telekomunikasi menjadi langkah yang tidak dapat dihindari untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat pengembangan infrastruktur digital di Indonesia.
Baca Juga
Tenancy Ratio Naik, Mitratel (MTEL) Optimistis Tangkap Peluang Internet Rakyat
Mitratel juga melihat konsolidasi operator akan berdampak positif terhadap bisnis penyedia infrastruktur tower. Saat ini, perseroan tengah melakukan pembicaraan intens dengan perusahaan infra telko lainnya untuk konsolidasi sebagai bagian dari strategi ekspansi. Namun demikian, manajemen belum bersedia mengungkap nama perusahaan yang tengah didekati konsolidasi tersebut.
Ia menambahkan, konsolidasi industri telekomunikasi merupakan tren global yang bertujuan meningkatkan efisiensi. Mitratel (MTEL) telah menyampaikan hasil kajian konsolidasi inikepada para operator telekomunikasi. “Konsolidasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi industri dengan mengurangi duplikasi infrastruktur, misalnya ketika terdapat dua tower di satu lokasi yang dapat dikonsolidasikan menjadi satu,” tulisnya.
Langkah tersebut dinilai dapat menekan biaya sewa operator, sehingga pada akhirnya menciptakan layanan yang lebih efisien bagi masyarakat. Selain itu, konsolidasi akan memperkuat kemampuan perusahaan menara telekomunikasi dalam mendukung pengembangan jaringan 5G, dibandingkan jika masing-masing operator berjalan sendiri-sendiri.
Terkait ekspansi perseroan ke depan, Purnama mengatakan, Mitratel (MTEL) membuka peluang pertumbuhan secara organik maupun anorganik, baik melalui akuisisi maupun merger, bergantung pada skala aset yang menjadi target. “Perseroan menargetkan kapitalisasi pasar (market cap) meningkat menjadi Rp 150 triliun pada 2030, meningkat dibandingkan posisi saat ini berkisar Rp 45 triliun,” tulisnya.
Penambahan Spektrum
Sementara itu, Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko atau Teddy mengatakan sekitar 95% pendapatan infrastruktur telekomunikasi seluler di Indonesia saat ini ditopang oleh jaringan tower dan fiber optik.
Ia menjelaskan, penguatan industri telekomunikasi tidak hanya bergantung pada pembangunan tower, tetapi juga penambahan spektrum frekuensi yang dapat meningkatkan kapasitas jaringan. “Analogi yang digunakan adalah jalan tol yang diperlebar dari dua lajur menjadi empat lajur, sehingga mampu menampung lebih banyak lalu lintas,” ujarnya.
Namun, dalam lima tahun terakhir, penambahan spektrum dinilai berjalan lambat, sehingga kualitas layanan seluler belum mengalami peningkatan yang signifikan. Padahal, digitalisasi membutuhkan dukungan infrastruktur telekomunikasi yang semakin kuat.
Baca Juga
Perkuat Infrastruktur Hijau, Mitratel (MTEL) Raih Green Trade Loan Rp 500 Miliar dari HSBC
Mitratel berharap pemerintah segera melelang spektrum 700 MHz dan 2,4 GHz. Menurut perseroan, pita frekuensi 700 MHz cocok untuk memperluas jangkauan layanan di wilayah pedesaan maupun daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sedangkan spektrum 2,4 GHz dinilai lebih sesuai untuk mendukung implementasi teknologi 5G karena mampu menyediakan kapasitas jaringan yang lebih besar.
Mitratel (MTEL) meyakini hadirnya spektrum baru akan mendorong modernisasi infrastruktur sekaligus membuka peluang investasi baru bagi operator telekomunikasi. "Kalau provider sehat, kami juga bisa bertumbuh lebih baik," ujar Teddy.
Terkait kinerja keuangan, Teddy mengatakan, tingkat pertumbuhan Mitratel (MTEL) tergolong kuat hingga kuartal I-2026. Perseroan berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebanyak 3,6% menjadi Rp 545 miliar pada kuartal I-2026. EBITDA margin tetap terjaga di level 82,7%, mencerminkan efisiensi operasional dan kualitas pendapatan.
