Merdeka Gold (EMAS) Raup Pendapatan US$ 2,6 Juta pada Kuartal I 2026, Ditopang Tambang Pani
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) membukukan pendapatan sebesar US$ 2,6 juta pada kuartal I 2026. Pendapatan ini berasal dari penjualan emas perdana dari Tambang Emas Pani pada Maret 2026, seiring transisi tambang menuju tahap produksi komersial.
Pada periode yang sama, EMAS mencatatkan EBITDA negatif sebesar US$1 juta, sedangkan rugi bersih setelah kepentingan nonpengendali mencapai US$10,9 juta. EMAS menyebut kinerja tersebut mencerminkan kondisi yang wajar bagi tambang yang baru memasuki fase produksi, ketika kontribusi penjualan masih terbatas dan masih terdapat beban keuangan dari fasilitas revolving credit.
EMAS memperkirakan kinerja keuangan akan meningkat pada kuartal-kuartal berikutnya seiring bertambahnya volume produksi dan penjualan selama proses ramp-up Tambang Emas Pani.
Baca Juga
Saham Merdeka Gold Resources (EMAS) Resmi Melantai di Bursa Hong Kong, Harga Penawaran Segini
Presiden Direktur EMAS Boyke P. Abidin mengatakan, kuartal I 2026 menjadi tonggak penting bagi perseroan setelah Tambang Emas Pani berhasil melakukan first gold pour pada Februari 2026 dan menyelesaikan penjualan emas perdana pada Maret 2026.
Sepanjang kuartal I 2026, Tambang Emas Pani memproduksi 1.818 ounces emas dan 3.500 ounces perak, serta mencatatkan penjualan perdana sebanyak 516 ounces emas. "Capaian ini menandai awal transisi kami menjadi perusahaan produsen emas dan menjadi fondasi penting bagi fase ramp-up Pani ke depan," kata Boyke dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).
EMAS juga memperoleh manfaat dari tingginya harga emas pada kuartal I 2026. Harga jual rata-rata mencapai US$5.123 per ounce, sementara biaya tunai tercatat sebesar US$969 per ounce di luar royalti atau US$1.202 per ounce termasuk royalti. Kondisi tersebut menghasilkan margin tunai sebesar US$3.921 per ounce pada tahap awal ramp-up.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Bersiap Melantai di Bursa Hong Kong, Kantongi Komitmen Penyerapan 49,9% Saham
Sementara itu, all-in sustaining cost (AISC) tercatat sebesar US$4.463 per ounce di luar royalti atau US$ 4.696 per ounce termasuk royalti. Menurut perseroan, tingginya AISC mencerminkan fase awal produksi ketika biaya sustaining dan pengeluaran ramp-up masih ditanggung oleh volume produksi yang terbatas. Seiring peningkatan produksi, biaya per unit diperkirakan akan berangsur normal.
Untuk sepanjang 2026, EMAS mempertahankan target produksi Tambang Emas Pani sebesar 100.000-115.000 ounces emas sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui.
Perseroan juga menetapkan panduan biaya tunai sebesar US$900-1.100 per ounce, sedangkan panduan AISC berada pada kisaran US$1.300-1.450 per ounce, keduanya di luar royalti dan kredit perak. Produksi perak sebagai produk sampingan diperkirakan mencapai 100.000-200.000 ounces sepanjang tahun ini.
Baca Juga
IHSG Cetak 24 Rekor Tertinggi Sepanjang 2025, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp 16.004 Triliun
Di sisi pengembangan sumber daya, setelah kuartal I 2026 EMAS mengumumkan estimasi sumber daya mineral perdana untuk prospek Kolokoa sebesar 42 juta ton dengan kadar 0,33 gram emas per ton, atau setara sekitar 445.000 ounces emas. Tambahan tersebut meningkatkan total inventaris sumber daya mineral Tambang Emas Pani dari 7 juta ounces menjadi sekitar 7,4 juta ounces emas, atau bertambah sekitar 6%.
Selain itu, pada 26 Juni 2026 EMAS menyelesaikan pencatatan sekunder di Main Board The Stock Exchange of Hong Kong Limited (HKEX) dalam bentuk Hong Kong Depositary Receipts (HDR) dengan kode saham 6228. Perseroan menilai langkah tersebut akan memperluas akses terhadap investor internasional sekaligus menjadi tonggak penting bagi EMAS dan pasar modal Indonesia.
Ke depan, EMAS akan berfokus pada peningkatan produksi Tambang Emas Pani secara aman dan disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan kapasitas pengolahan secara bertahap. Perseroan optimistis produksi perdana yang telah tercapai, target produksi 2026 yang jelas, peningkatan sumber daya mineral, serta akses ke pasar modal Indonesia dan internasional akan mendukung penciptaan nilai jangka panjang dari salah satu deposit emas primer terbesar di Asia.
