PT Akasha Wira International Tbk (ADES) Ekspansi ke Bisnis Kembang Gula, Siapkan Duit Rp 46,2 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- PT Akasha Wira International Tbk (ADES), produsen air minum dalam kemasan, memaparkan rencana perubahan kegiatan usaha melalui penambahan unit bisnis di industri kembang gula, khususnya produk permen gummy.
Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya pengembangan usaha yang lebih luas untuk menyasar pasar konsumsi yang sedang berkembang pesat di Tanah Air.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen perseroan pada otoritas bursa pada Sabtu, (13/6/2026), perseroan menegaskan bahwa fokus utama pada unit bisnis baru ini adalah pengembangan produk dengan konsep indulgent gummy yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi portofolio perusahaan.
Sebelum memutuskan untuk merambah ke sektor kembang gula, perseroan telah dikenal luas melalui berbagai lini bisnis yang mapan di bidang industri dan perdagangan. Hingga saat ini, emiten dengan kode saham ADES ini telah menjalankan operasional di sektor industri air minum dalam kemasan, minuman ringan, serta pengolahan sari buah dan sayuran.
Selain itu, perusahaan juga aktif dalam industri makaroni, mi, produk makanan lainnya, hingga industri kosmetik seperti pasta gigi, serta perdagangan besar berbagai komoditas makanan dan kosmetik melalui platform digital baik secara langsung maupun melalui portal web.
Manajemen memaparkan bahwa alasan mendasar di balik penambahan jenis usaha ini adalah sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha dan diversifikasi portofolio produk perseroan untuk menangkap peluang di segmen yang lebih spesifik. Selain alasan strategis, terdapat kebutuhan administratif terkait klasifikasi kegiatan usaha karena produk permen gummy memerlukan kesesuaian dengan KBLI 10734 atau industri kembang gula sesuai regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Oleh karena itu, penambahan unit bisnis ini dipandang perlu guna mendukung proses registrasi dan perizinan produk gummy yang akan segera diproduksi dan dipasarkan oleh perseroan secara legal dan terstruktur.
Baca Juga
Menperin: Investasi AMDK Capai Rp27,8 Triliun, Jamin Ketersediaan Air Minum yang Aman
Melihat potensi pasar, manajemen optimis bahwa sektor kembang gula memiliki prospek yang sangat cerah di Indonesia karena didorong oleh peningkatan konsumsi yang pesat, terutama di kalangan kelas menengah.
Pasar gummy nasional diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR mencapai kisaran 4,5% hingga 5,2% per tahun, dengan estimasi nilai pasar mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat pada tahun 2026. Perseroan menyatakan bahwa Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pasar makanan dan minuman terbesar di Asia Tenggara, sehingga penetrasi produk baru diarahkan untuk menyerap potensi pertumbuhan pasar tersebut secara maksimal.
"Guna mendukung realisasi rencana besar ini, perseroan telah mengalokasikan total investasi sebesar Rp46,215 miliar yang bersumber sepenuhnya dari kas internal perusahaan tanpa melalui pendanaan eksternal," kata Direktur perseroan Fany Soegiarto dalam laporan keterbukaan tersebut.
Dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan tanah sebesar Rp4,42 miliar, pembangunan fasilitas pabrik senilai Rp4,09 miliar, serta pembelian mesin-mesin produksi mutakhir sebesar Rp37,69 miliar yang akan berlokasi di Jalan Raya Cikande Rangkasbitung, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Pembangunan fasilitas ini direncanakan terealisasi pada tahun ini, sehingga proses produksi dapat segera dimulai untuk memenuhi target pasar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Masih berdasarkan laporan keterbukaan, terkait operasional dan sumber daya manusia, perusahaan telah merekrut tenaga ahli yang berpengalaman luas di industri gula dan kembang gula untuk memimpin pengembangan unit bisnis ini.
Perseroan berencana menggunakan total 63 tenaga kerja yang terdiri atas berbagai tingkatan mulai dari manajer hingga operator yang akan bertugas di fasilitas produksi baru tersebut.
Manajemen sangat yakin dengan ketersediaan bahan baku utama seperti sirup glukosa dan gula yang mayoritas diperoleh dari pemasok lokal, sementara penggunaan bahan baku impor hanya dibatasi sekitar 10% hingga 15% dari total kebutuhan produksi untuk menjaga kesinambungan usaha.
Proyeksi keuangan yang dipaparkan menunjukkan performa yang menjanjikan dengan estimasi pendapatan yang terus meningkat signifikan dari tahun 2026 hingga 2030. Perseroan memprediksi rata-rata Gross Profit Margin sebesar 49,50% dan Net Profit Margin mencapai 31,66% dalam periode lima tahun pertama operasional unit baru tersebut.
Proyek ini mencatatkan Net Present Value sebesar Rp216,4 miliar dengan Internal Rate of Return mencapai 159,92% yang jauh melampaui tingkat pengembalian yang diasumsikan 8,55% per tahun. Sementara itu Payback Period diprpoyeksikan bisa diperoleh dalam waktu relatif singkat yaitu 1 tahun 9 bulan.
