Era Baru Amman (AMMN) Dimulai, Bagaimana dengan Target Harga Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.500 per saham atau mencerminkan potensi kenaikan (upside) lebih dari 100%. Target ini merefleksikan sejumlah faktor keberhasilan eksekusi tambang fase 8, kenaikan harga tembaga dan emas, serta perkembangan proyek Elang.
Analis KB Valbury Sekuritas Ashalia Fitri Yuliana dan Naufal Rafi Kamal mengatakan, rekomendasi dengan target harga tinggi ini didukung normalisasi aktivitas penambangan Phase 8 yang diharapkan menjadi titik balik kinerja perseroan pada 2026. AMMN diproyeksikan memasuki siklus produksi yang jauh lebih produktif.
Baca Juga
Amman (AMMN) Berbalik Untung di Kuartal I-2026, Nilainya Segini
Volume tambang diperkirakan mencapai 800 ribu dry metric ton (dmt) pada 2026 atau meningkat 79,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut diperkirakan menghasilkan produksi tembaga sebesar 430 juta pon dan sebanyak 510 ribu ons emas.
Phase 8 memiliki sumber daya sebesar 442 juta ton yang mewakili 63% dari total basis sumber daya AMMN. Setelah proses pengupasan lapisan penutup berkadar rendah selesai, perusahaan diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Selain peningkatan produksi tambang, ekspektasi lomptan kinerja keuangan Amman (AMMN) akan ditopang oleh produk hilir yang untuk pertama kalinya berkontribusi penuh terhadap pendapatan selama satu tahun penuh pada 2026. Produk hilir diperkirakan menyumbang lebih dari 50% total pendapatan perseroan.
“Dengan kombinasi peningkatan produksi dan kontribusi produk hilir, pendapatan AMMN diproyeksikan mencapai US$ 3,79 miliar pada 2026 atau melonjak 105,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan diperkirakan kembali naik menjadi US$ 4,18 miliar pada 2027,” terangnya.
Sementara itu, EBITDA diperkirakan mencapai US$ 1,94 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi US$2,14 miliar pada 2027. Laba bersih diperkirakan melonjak menjadi US$ 806 juta pada 2026 atau naik 223,7% secara tahunan. Pada 2027, laba bersih diproyeksikan kembali tumbuh menjadi US$ 899 juta atau naik 11,5%.
Baca Juga
MSCI Keluarkan 6 Saham dari Global Standard Index, Ada BREN, AMMN, dan DSSA
Prospek pertumbuhan AMMN juga akan didukung pasar komoditas yang dinilai semakin konstruktif. Permintaan tembaga global diproyeksikan meningkat 24% menjadi 42,7 juta ton pada 2035. Kenaikan tersebut didorong oleh tren elektrifikasi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta industrialisasi yang terus berlangsung.
Pasar tembaga juga diperkirakan mulai menghadapi kekurangan pasokan struktural sejak 2026 yang berpotensi memperkuat fundamental harga dalam jangka panjang. “Di sisi lain, AMMN dinilai berada pada posisi yang menguntungkan untuk memanfaatkan prospek pasar emas. Ketidakpastian geopolitik global dan permintaan berkelanjutan dari bank sentral untuk cadangan emas diperkirakan tetap menopang harga logam mulia tersebut,” tulisnya.
Namun demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, termasuk realisasi produksi yang lebih rendah dari target, keterlambatan proyek, pelemahan harga komoditas, serta perubahan regulasi yang berpotensi memengaruhi sektor pertambangan logam di Indonesia.

