Kinerja Pasar Saham Indonesia Menjadi yang Terburuk, Saat MSCI ‘Emerging Market’ Unggul Awal Tahun Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Samuel Sekuritas Indonesia menilai bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan domestik yang membuat kinerjanya tertinggal dibandingkan beberapa pasar negara berkembang lainnya.
Menurut Managing Director PT Semuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong menjelaskan, pasar saham Indonesia masih tertinggal di tengah penguatan pasar negara berkembang.
Rata-rata pergerakan pasar saham negara berkembang atau kelompok emerging market berdasarkan pemeringkatan MSCI menunjukkan pertumbuhan 22,5% dari awal tahun hingga 31 May 2026 (ytd). Jumlah ini lebih besar dibandingkan rata-rata pertumbuhan pasar saham negara maju (develop market) berdasarkan perhitungan MSCI yang hanya di kisaran 9% (ytd).
Menelaah data yang disajikan Samuel Tumbuh Bersama (STB), pasar saham negara berkembang seperti Taiwan mencatatkan pertumbuhan 50,3% (ytd). Sementara itu, pasar saham Malaysia tumbuh 1,1% (ytd), Thailand naik 23,3% (ytd), Korea meroket 91% (ytd), dan Shanghai terapresiasi 4,4% (ytd).
Namun dalam kurun waktu yang sama, pasar saham negara berkembang lain, seperti Filipina terkoreksi 1,5% (ytd), India tergerus 8,5% (ytd), dan Indonesia anjlok 29,1% (ytd). Terbaru, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) per 4 Juni 2026 telah mencapai 32,46% (ytd).
Baca Juga
IHSG Anjlok 1,70%, Samuel Sekuritas Sebut Valuasi Saham Justru Kian Menarik
“Emerging market secara umum sedang bergerak positif tetapi Indonesia justru bergerak berlawanan arah. Menjadikan Indonesia, salah satu pasar dengan kinerja terlemah awal tahun ini dan menunjukkan bahwa tekanan di pasar domestik masih cukup kuat,” ujar Tae Yong dalam Samuel Sekuritas Media Connect di Menara Imperium, Kamis (4/6/2026).
Dia menjabarkan, salah satu faktor yang membuat pasar Indonesia belum mampu pulih adalah masih adanya isu domestik yang menahan kepercayaan investor, terutama terkait perhatian MSCI terhadap aspek free float dan investability pasar saham Indonesia.
Menurut Tae Yong, MSCI masih menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, keandalan data free float, serta jumlah saham yang benar-benar dapat diperdagangkan di pasar.
“Isu MSCI menjadi penting karena berdampak langsung pada persepsi investor global. Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif ke pasar Indonesia,” sambung dia.
Sejumlah saham terdampak penghapusan dari indeks MSCI pada 19 Mei 2026. Beberapa di antaranya adalah AMMN, TPIA, DSSA, BREN, dan CUAN yang sebelumnya masuk indeks standard, dengan bobot masing-masing turun menjadi 0% setelah penghapusan.
Salah satu contoh adalah AMMN dengan free float yang direvisi dari 17,5% menjadi 10%, sementara TPIA turun dari 9,6% menjadi 7,9%, DSSA turun dari 20,4% menjadi 4,2%, BREN turun dari 5,8% menjadi 2,4%, dan CUAN turun dari 15,9% menjadi 14,0%.
“Isu MSCI perlu diperhatikan karena ini bukan hanya soal persepsi. Dalam review Mei 2026, MSCI masih tidak memberikan kenaikan bobot, tidak menambah saham baru, dan tidak melakukan upgrade dari Small Cap ke Standard Index. Risiko lain adalah saham-saham dengan HSC dapat dikeluarkan, sementara data pemegang saham di atas 1% bisa digunakan untuk menghitung ulang free float,” papar Tae Yong.
Tae Yong juga menyoroti tekanan terhadap Rupiah sebagai salah satu faktor risiko yang perlu dicermati. Rupiah disebut telah menembus level tertinggi sejak krisis finansial Asia, dengan grafik menunjukkan kisaran Rp 16.650 hingga Rp 17.874 per dolar AS berdasarkan harga penutupan 29 Mei 2026.
“Tekanan Rupiah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Ini membuat investor semakin selektif, terutama terhadap aset berisiko di pasar domestik,” pungkasnya.
