Net Sell Melanda Rp 309,45 Miliar, Saham BBCA hingga BMRI Dilepas Pemodal Asing
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 309,45 miliar, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/5/2026), ditutup rebound sebanyak 67,1 poin (1,10%) menjadi 6.162,04.
Net sell terbanyak melanda saham BBCA senilai Rp 322,37 miliar, BMRI mencapai Rp 287,86 miliar, TPIA mencapai Rp 156,40 miliar, AMMN senilai Rp 156,32 miliar, dan TLKM senilai Rp 152,17 miliar.
Sebaliknya lima saham dengan pembelian bersih (net buy) melanda saham FILM sebanyak Rp 365,37 miliar, LPKR mencapai Rp 212,15 miliar, MDKA sebanyak Rp 173,62 miliar, BRMS mencapai Rp 171,23 miliar, dan TINS mencapai Rp 80,92 miliar.
Baca Juga
BI Rate Naik Jadi 5,25% Penguatan Rupiah Dinilai Tak Bisa Hanya Andalkan Kebijakan Moneter
Terkait kenaikan indeks hari ini dipicu atas penguatan mayoritas sektor saham, seperti sektor material dasar naik 6,85%, sektor energi 4,84%, konsumer primer 2,58%, industry 2,32%, dan infrastruktur 1,53%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor keuangan.
Kenaikan indeks juga ditopang lompatan harga saham emiten yang teraffiliasi dengan Boy Thohir, seperti EMAS, MDKA, AADI, ADRO, MBMA. Kenaikan juga didukung penguatan saham INCO, RATU, TINS, hingga BRPT. Sebaliknya saham TPIA, DSSA, dan BREN kembali jadi pemberat indeks.
Adapun saham dengan kenaikan harga paling pesat, yaitu saham auto reject atas (ARA) MDKA naik 24,77% menjadi Rp 2.720, CTBN naik 25% menjadi Rp 5.750, PBSA naik 25% menjadi Rp 850, EMAS naik 19,67% menjadi Rp 7.300, dan ENRG naik 22,13% menjadi Rp 1.490.
Baca Juga
Purbaya Pastikan Ikuti Perintah Prabowo soal Ganti Dirjen Bea Cukai
Kemarin, IHSG ditutup anjlok signifikan mencapai 223,56 poin (3,54%) ke bawah 6.100, tepatnya 6.094. Dengan demikian pelemahan IHSG telah mencapai 11% dalam lima hari terakhir. Net sell saham oleh pemodal asing mencapai Rp 508 miliar.
Tekanan indeks kemarin merespons pernyataan S&P Global Ratings yang menilai wacana pengendalian ekspor berpotensi menekan kinerja ekspor, penerimaan pemerintah, serta meningkatkan risiko terhadap neraca pembayaran Indonesia. Hal tersebut memicu kekhawatiran terhadap prospek stabilitas makroekonomi dan outlook rating Indonesia.
Adapun sektor saham dengan pelemahan paling dalam, yaitu saham sektor material dasar 6,53%, sektor energi 6,91%, sektor konsumer primer 6,05%, industry 5,37%, sektor infrastruktur 5,58%, dan sektor transportasi 4,92%.

