Bitcoin Gagal Tembus US$ 80.000, Pasar Kripto Masih Rentan Koreksi
JAKARTA, investortrust.id – Pasar kripto mengalami pelemahan menjelang akhir pekan, Jumat (23/4/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian global yang memicu kehati-hatian investor.
Kapitalisasi pasar kripto siang tadi tercatat turun sekitar 1,07% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,59 triliun. Tekanan ini dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik, kondisi makroekonomi,serta dinamika pasar derivatif yang mempercepat koreksi harga, khususnya pada Bitcoin.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utamamelemahnya sentimen pasar. Situasi ini diperparah dengan kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang memperpanjang gencatan senjata namun belum memberikan kejelasan arah hubungan kedua negara.
Sebagai dampaknya, Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menuturkan, harga minyak mengalami kenaikan dan dolar AS menguat, sehingga menekan minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto. Selain itu, gesekan baru antara AS dan China terkait isu teknologi kecerdasan buatan juga menambah ketidakpastian pasar global.
“Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempatmenyentuh level di atas US$ 79.000, harga kembali terkoreksi dan ditutup melemah sekitar 2% ke kisaran US$ 78.000,” ujar Fyqieh dalam risetnya, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga
Ketegangan Global Tekan Bitcoin, Level US$ 80.000 Belum Juga Ditembus
Ia melanjutkan penurunan ini memicu likuidasi besar-besaran pada pasar derivatif dengan total posisi mencapai sekitar US$ 278 juta. Tekanan jual yang meningkat akibat likuidasi ini mempercepat penurunan harga dalam jangka pendek, sekaligus menunjukkan rapuhnya momentum kenaikan yang sebelumnya terjadi.
Sejalan dengan pergerakan Bitcoin, sejumlah altcoin juga mengalami penurunan. Ethereum terkoreksi dari level tertingginya dalam sepekan, sementara XRP bergerak terbatas di bawah level resistance. Aset lain seperti Solana, Cardano, dan Dogecoin turut mencatat penurunan seiring berkurangnya minat risiko di kalangan investor. Di sisi lain, dominasi Bitcoin meningkat hingga sekitar 60%, menandakan adanya pergeseran alokasi dana ke aset yang dianggap lebih defensif.
Tekanan terhadap pasar juga datang dari ketidakpastian regulasi, khususnya di Amerika Serikat. Peluang pengesahan CLARITY Act pada 2026 dilaporkan menurun, mencerminkan masih terjadinya perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan. Kondisi ini turut mempengaruhi kepercayaan investor terhadap aset digital secara keseluruhan.
Fyqieh menilai bahwa pelemahan pasar saat ini merupakan hal yang wajar di tengah kombinasi tekanan global dan dinamika internal industri kripto. “Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh tekanan teknikal seperti likuidasi besar di pasar derivatif serta aksi profit taking dari investor jangka pendek. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi,” ujarnya.
Baca Juga
Kuartal I, Tesla Cetak Laba di Atas Ekspektasi Meski Tertekan Volatilitas Harga Bitcoin
Fondasi Pasar Kripto Cukup Solid
Meski demikian, ia melihat fondasi pasar kripto secara keseluruhan masih cukup solid di tengah tekanan jangka pendek. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis US$ 75.000, peluang untuk pemulihan masih terbuka. Namun, investor tetap perlu mencermati faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik yang dapat memicu volatilitas,” lanjutnya.
Untuk mempertahankan momentum ke depan, Bitcoin dinilai perlu menunjukkan kekuatan yang lebih konsisten, terutama dengan menjaga pergerakan di area kunci antara US$ 78.000 hingga US$ 83.000. Selain itu, tren kenaikan yang lebih berkelanjutan juga membutuhkan dukungan likuiditas yang kuat, permintaan spot yang stabil, serta keterlibatan lebih luas dari investor ritel dan pergerakan altcoin. Tanpa dukungan tersebut, kenaikan harga berpotensi bersifat sementara dan rentan terhadap koreksi.
Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan pasar dalam waktu dekat .Agenda FOMC pada 28–29 April menjadi salah satu katalis penting yang dapat memengaruhi arah pasar, terutama jika kebijakan yang diambil cenderung ketat. Selain itu, tekanan dari sisi suplai juga masih membayangi, di mana aktivitas penjualan Bitcoin oleh miner yang relatif tinggi berpotensi menahan kenaikan harga jika tidak diimbangi oleh peningkatan permintaan baru.

