Pemerintah Waspadai Sentimen Global dan Kebijakan Fiskal AS Meski Perang Dagang Mereda
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti sejumlah faktor global yang perlu diwaspadai dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Salah satu yang patut diperhatikan adalah sentimen global yang rentan terhadap faktor non-ekonomi, termasuk kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS) yang memengaruhi fluktuasi harga emas dan aset safe haven.
“Termasuk kebijakan fiskal AS, yang berdampak kepada fluktuasi harga emas dan aset safe haven,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober 2025 di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Baca Juga
Trump Puji Prabowo sebagai 'The Incredible Man' di KTT Gaza, Kadin Ikut Senang
Purbaya menyampaikan, kondisi pasar keuangan global masih menunjukkan pemulihan yang relatif stabil, seiring dengan meredanya perang dagang dan ekspektasi pemangkasan Fed Fund Rate (FFR) oleh The Federal Reserve.
Meski rupiah terdepresiasi 2,8% secara tahun berjalan (ytd), ia tetap optimistis terhadap ekonomi domestik. Optimisme ini didukung oleh penguatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik sekitar 16,6% ytd. “To the moon nanti 2030,” ujarnya.
Purbaya juga menuturkan bahwa imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun 88 basis poin (bps) sepanjang tahun berjalan. Ia menilai, penurunan yield tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia, sekaligus menunjukkan menurunnya persepsi risiko investor terhadap Indonesia.
Baca Juga
Sisa 3 Bulan, Pemerintah Pusat Kebut Belanja Rp 1.073,5 Triliun
“Penurunan imbal hasil SBN mencerminkan efektivitas bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan daya tarik surat utang domestik,” katanya.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025–2026 menunjukkan tren membaik meski masih diwarnai tensi geopolitik seperti konflik dagang AS–China dan potensi shutdown pemerintah AS.
Ia juga menyoroti PMI Global yang tetap ekspansif, mencerminkan keberlanjutan aktivitas manufaktur di kawasan Asia, India, Arab Saudi, dan Thailand. “Ekspansi pasar menunjukkan peluang tinggi. Penurunan suku bunga The Fed bisa menjadi katalis positif bagi emerging market, termasuk Indonesia,” jelas Purbaya.

