Menkeu Purbaya Klaim Pemerintah Prabowo Sudah Ciptakan Lapangan Kerja 3,59 Juta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim pemerintah Presiden Prabowo Subianto telah menciptakan tambahan lapangan kerja untuk 3,59 juta orang selama 2025.
“Sehingga secara agregat berimplikasi pada penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,76% dari tahun lalu yang sebesar 4,28%” kata Purbaya saat rapat kerja di Komisi XI, Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Purbaya menjelaskan pembukaan lapangan kerja ini mengatasi kemiskinan ke level 8,47% dari sebelumnya di level 9,03%.
Purbaya mengklaim selama 10 bulan terakhir, di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia tetap stabil. Kesejahteraan rakyat meningkat dan berbagai program unggulan sudah menunjukkan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian.
Salah satu indikatornya yaitu inflasi terkendali di level rendah dan rasio utang tercatat terendah di G20 yaitu di kisaran 39,8%. Sementara itu, defisit APBN terkendali dalam batas aman sebesar 2,78% dari PDB untuk outlook 2025.
Baca Juga
Menekraf dan Menko PM Sepakat Cetak 1,2 Juta Lapangan Kerja Baru di Sektor Kreatif
Melihat kondisi ini, Rancangan APBN 2026 akan fokus untuk mendukung delapan agenda prioritas. Untuk itu, APBN akan dirancang untuk merespons dinamika perekonomian dan menjawab tantangan untuk mendukung agenda pembangunan.
“Maka APBN akan terus dijaga agar tetap sehat dan berkelanjutan,” ujar dia.
Sejumlah strategi yang akan ditempuh, kata Purbaya, yaitu fokus terhadap delapan agenda prioritas secara efisien, produktif, dan sinergis sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian. Pemerintah juga akan mengoptimalisasi pendapatan negara dengan efektivitas reformasi perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan, sistem perpajakan yang kompatibel dengan struktur perekonomian dan sistem perpajakan global.
“Berikutnya adalah mendorong pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan. Ini ditempuh dengan mengendalikan utang dalam batas aman, mensinergikan peran Danantara untuk akselerasi produktif dan memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk mengantisipasi ketidakpastian,” jelas dia.

