S&P Pertahankan Rating Kredit BBB, Arah Fiskal ke Depan Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga pemeringkat kredit S&P Global mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada BBB dengan outlook stabil. S&P menilai rating tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang solid, kebijakan ekonomi yang cermat dan kemampuan untuk mengelola beban utang publik secara prudent.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Deni Surjantoro mengatakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan terus waspada terhadap dinamika dan risiko eksternal.
“Prioritas akan tetap difokuskan pada pengendalian inflasi, menjaga daya beli masyarakat, serta mempertahankan momentum pemulihan ekonomi nasional yang solid,” kata Deni, dalam keterangan resminya, Rabu (30/7/2025).
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan rating yang diberikan S&P ke Indonesia merefleksikan kepercayaan yang kuat dari investor asing terhadap stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Keyakinan ini didukung oleh kerangka kebijakan yang berhati-hati dan sinergi bauran kebijakan yang efektif antara pemerintah dan bank Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung,” kata Perry
Dalam laporannya, S&P Global memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di bawah 5%. S&P Global memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 4,8% pada tahun ini.
Baca Juga
OJK: Afirmasi Peringkat Kredit Oleh S&P Tegaskan Ketahanan Ekonomi dan Sektor Keuangan Indonesia
“Ini karena permintaan domestik menujukkan tanda-tanda pelemahan di awal tahun,” tulis S&P dalam laporannya.
Belanja infrastruktur di awal tahun menjadi salah satu alasan dari kondisi ini. Di sisi lain, permintaan ekspor komoditas menunjukkan pelemahan sejak pengumuman tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
“Kami perkirakan kesepakatan dagang antara kedua negara awal bulan ini akan sedikit meredam dampak tarif AS terhadap Indonesia,” bunyi laporan itu.
S&P menyebut permintaan domestik akan jadi pendorong utama. Perbaikan program sosial misalnya program makan bergizi gratis dan tiga juta rumah, seharusnya mulai memperbaiki kondisi ekonomi.
S&P memperkirakan defisit fiskal akan meningkat pada 2,6% pada 2025. Sementara tahun depan, S&P memproyeksikan defisit 2,8%.
“Meskipun pendapatan negara lebih rendah dari perkiraan dan turun 13% dalam semester I-2025, belanja pemerintah juga melambat,” tulis S&P. Disampaikan pula bahwa program Makanan Bergizi Gratis diperkirakan tidak menyerap penuh alokasi Rp71 triliun, sehingga membantu menjaga defisit tetap terkendali.
Dengan asumsi disiplin fiskal yang ketat, dengan batas defisit yang terjaga di bawah 3%, utang bruto pemerintah diperkirakan naik menjadi 40,6% dari PDB pada 2025 dan 40,7% pada 2026.
“Dengan penurunan suku bunga, pembayaran bunga diperkirakan mencapai rata-rata 14,4% dari pendapatan pemerintah dalam tiga tahun mendatang,” tulis laporan tersebut.
S&P memproyeksikan, arah fiskal Indonesia agak tidak pasti dari biasanya. Ini karena pemerintah masih merinci prioritas kebijakan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Perubahan kebijakan pada masa mendatang dapat menyebabkan indikator fiskal menyimpang dari proyeksi S&P.

