Gunung Sampah 33,8 Juta Ton Jadi Solusi Energi, Ini Strategi Pemerintah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan, dalam upaya mewujudkan ketahanan energi yang menjadi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, maka segala upaya akan dilakukan. Termasuk mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Yuliot memaparkan, timbulan sampah dalam 1 tahun mencapai sekitar 33,8 juta ton. Munculnya gunung-gunung sampah di berbagai daerah, seperti di Bantargebang, di Legok Nangka, hingga di Bali dinilai telah menjadi persoalan serius.
“Untuk ketahanan energi, ternyata ini secara nasional, kita memiliki timbulan sampah dalam 1 tahun itu sekitar 33,8 juta ton. Ini sudah menjadi gunung sampah di beberapa daerah, di kota-kota besar pada umumnya itu bermasalah,” kata Yuliot di Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Baca Juga
Prabowo Instruksikan Akselerasi Penanganan Sampah dari Hulu hingga Hilir
Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah akan mencoba untuk mendorong kebijakan waste to energy. Yuliot menerangkan bahwa pihaknya sedang menyusun dan menyelesaikan regulasinya dalam bentuk peraturan presiden (perpres) sebagai pengganti dari Perpes No. 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
“Jadi kalau di Perpes 35, itu justru harus melalui proses tender lelang. Jadi setelah proses tender lelang, itu nanti juga akan ada negosiasi perjanjian jual-beli listrik dengan PLN. Jadi biasanya di lelangnya sudah bermasalah membutuhkan waktu lama, kemudian negosiasi harga jual listrik dari PLTSa ini juga bermasalah,” jelas dia.
Menurutnya, dengan kondisi yang ada sekarang, hal itu membuat beberapa daerah, seperti di Surabaya membutuhkan waktu lama, yakni hingga 9 tahun untuk disepakatinya perjanjian jual-beli. Maka dari itu, hal ini ingin disederhanakan.
Baca Juga
Danantara Bakal Ajak Swasta Investasi di Proyek Energi Sampah
Selain PLTSa, pemerintah juga mendorong memanfaatkan sampah sebagai penghasil bioenergi dan substitusi bahan bakar. Yuliot menyebut, 1 ton sampah bisa menghasilkan sekitar 400 liter bahan bakar terbarukan.
“Jadi bahan bakar substitusi dari sampah plastik, itu bisa diolah kembali dengan teknologi pirolisis. Jadi yang pertama, ini kan juga akan memperkuat energi. Yang kedua, dari sisi lingkungan dan juga kesehatan masyarakat, sampah menjadi masalah, justru dengan adanya kebijakan ini, akan menjadi tersolusikan.
Adapun stakeholder untuk off-taker-nya untuk listrik adalah PLN, kemudian bioenergi bisa industri atau rumah tangga, dan juga bahan bakar substitusi bisa diambil oleh industri.

