Kurs Rupiah Menguat Tipis, Dikerek Sentimen Positif Akhir Perang Dagang AS-China
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin (30/6/2025) usai libur panjang peringatan Tahun Baru 1 Muharram 1447 Hijriah. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah menguat tipis 2 poin (0,01%) ke level Rp 16.231 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sedangkan pada perdagangan spot, data Bloomberg menunjukkan kurs rupiah justri merosot 43 poin (0,27%) ke level Rp 16.238 per dolar AS hingga pukul 15.30 WIB.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, sentimen positif terhadap pergerakan kurs rupiah sore ini dikerek oleh akhir dari drama perang dagang antara AS dan China. Diketahui pada Kamis (26/6) waktu setempat, Gedung Putih mengumumkan AS dan China telah secara resmi menandatangani perjanjian perdagangan, yang secara efektif mengakhiri "perang dagang" yang sedang berlangsung.
Adapun Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengatakan kesepakatan tambahan akan segera terjadi menjelang batas waktu 9 Juli.
Baca Juga
Sementara itu, perjanjian perdagangan AS-Inggris mulai berlaku Senin, memangkas tarif mobil hingga 10% dan sepenuhnya menghapus bea masuk suku cadang pesawat. Namun, batas waktu 9 Juli sudah dekat untuk kemungkinan penerapan kembali bea masuk pada mitra dagang lainnya, dan untuk tarif baja dan aluminium global.
"Mengenai geopolitik, Iran telah menunjukkan tanda-tanda fleksibilitas, condong ke arah diplomasi, karena perwakilannya di PBB mengatakan bahwa Teheran terbuka untuk membentuk konsorsium nuklir regional jika terjadi kesepakatan dengan Washington, yang menambah optimisme pasar adalah kemungkinan berakhirnya perang Israel-Gaza dalam waktu dua minggu," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Senin (30/6/2025).
Di sisi lain, pengukur inflasi pilihan Federal Reserve, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti pada bulan Mei dirilis sejalan dengan perkiraan. PCE inti pada bulan Mei naik sebesar 2,7% (yoy), lebih tinggi dibanding estimasi dan data bulan April.
"Fokus pasar minggu ini adalah data ketenagakerjaan utama AS yang akan dirilis hari Kamis," tutur Ibrahim.

