Investor Asing Lanjut Net Buy Saham dan SBN
JAKARTA, investortrust.id - Investor asing lanjut mencatatkan net buy saham Rp 0,08 triliun pada perdagangan Rabu (11/06/2025), di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data terbaru DJPPR, pemodal asing juga masih membukukan pembelian bersih di Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia senilai Rp 4,85 triliun Kamis lalu.
Net foreign capital inflows itu mengurangi akumulasi penjualan bersih saham oleh asing di Bursa Efek Indonesia month to date menjadi Rp 3,59 triliun. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell Rp 48,78 triliun,” papar manajemen BEI dalam keterangan di Jakarta, Rabu malam.
Baca JugaPresiden Intervensi Kebijakan Kementerian, Indikasi Ada Duri dalam Kabinet
Mtd, SBN Net Buy
Sementara itu, di pasar SBN, data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi Kamis lalu. Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan mencatatkan pembelian neto Rp 4,85 triliun.
Secara month to date, asing mencatatkan pembelian bersih Rp 1,92 triliun hingga Kamis lalu, dan secara year to date mencapai Rp 51,55 triliun hingga Kamis lalu.
Baca JugaPrabowo Saksikan Penandatanganan 27 Kontrak Senilai Rp 33 Triliun, Termasuk Proyek Jet Tempur
Asing Buru BRMS
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), meski investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 79,04 miliar, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Rabu (11/06/2025) ditutup turun 8,28 poin (0,11%) menjadi 7.222. Berdasarkan catatan Investortrust.id, pembelian bersih oleh asing terbanyak melanda lima saham yakni saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) senilai Rp 335,12 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 223,69 miliar, PT Sentul City Tbk (BKSL) Rp 132,37 miliar, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 51,11 miliar, dan PT Surge Tbk (WIFI) Rp 49,78 miliar.
Sebaliknya lima saham dengan penjualan bersih (net sell) terbesar melanda saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 330,23 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp 225,65 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 132,40 miliar, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp 76,59 miliar, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 62,94 miliar.
Sementara itu, mayoritas sektor saham justru melesat, seperti sektor material dasar naik 2%, sektor properti 1%, sektor teknologi 1,07%, sektor energi 0,65%, dan sektor barang konsumen nonprimer 0,61%. Penurunan hanya melanda saham sektor keuangan sebanyak 0,30%.
Meski IHSG turun, empat saham berhasil mencetak penguatan hingga auto reject atas (ARA). Ini mencakup PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) dengan harga saham naik 34,72% menjadi Rp 260, PT Charnic Capital Tbk (NICK) naik 25% menjadi Rp 1.000,PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) naik 24,79% menjadi Rp 755, serta PT Mitra Energi Persada Tbk (KOPI) naik 24,77% menjadi Rp 680.
Kenaikan harga sifnifikan juga melanda saham PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) sebesar 16,22% menjadi Rp 86, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 15,46% menjadi Rp 478. Demikian pula PT Sentul City Tbk (BKSL), harga sahamnya naik 15% menjadi Rp 115.
Sebaliknya, penurunan harga melanda saham PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) sebesar 13,07% menjadi Rp 346. Selain itu, harga saham PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) turun 10,55% menjadi Rp 975, PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) turun 14,74% menjadiRp 162, PT Era Graharealty Tbk (IPAC) turun 10% menjadi Rp 162, dan PT ICTSI Jasa Prima Tbk (KARW) turun 9,76% menjadi Rp 1.340.

