Dampak Tarif Trump, Ekonomi Indonesia Diperkirakan Hanya Turun 0,05%
JAKARTA, investortrust.id - Penerapan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berdampak langsung pada banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, efek terhadap perekonomian Indonesia dinilai relatif kecil dibanding Vietnam dan China.
“Penerapan tarif tinggi oleh AS akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar minus 0,05 persen,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus dalam diskusi publik "Waspada Genderang Perang Dagang", Jumat (4/4/2025).
Di sisi lain, Vietnam diprediksi mengalami kontraksi ekonomi hingga 0,85 persen dan China sebesar 0,61 persen. Kedua negara tersebut dinilai lebih terdampak karena sangat bergantung pada pasar AS.
“Indonesia lebih terlindungi karena punya mitra dagang yang beragam seperti China, Jepang, India, dan Uni Eropa,” jelas Heri.
Heri menambahkan bahwa diversifikasi ini akan menjadi bantalan penting di tengah ketidakpastian global. Meski demikian, ia mengingatkan potensi dampak tidak langsung terhadap rantai pasokan.
Baca Juga
Tarif Resiprositas Trump Picu Capital Outflow Negara Berkembang
“Kalau ekspor China ke AS turun, permintaan mereka terhadap bahan baku dari Indonesia otomatis juga bisa ikut melemah,” katanya.
Sektor-sektor unggulan ekspor Indonesia seperti tekstil, mesin, dan peralatan listrik disebut paling rentan terdampak. Penurunan ekspor akan menekan produksi dan menyulitkan pelaku industri dalam negeri.
Heri juga menyoroti absennya kerja sama perdagangan bebas antara Indonesia dan Amerika Serikat. “Kalau kita punya FTA, potensi peningkatan ekspor akan jauh lebih besar,” tegasnya.
Menurutnya, AS sengaja menggunakan tarif ini sebagai alat negosiasi politik dan ekonomi. “Tarif tinggi lalu dikasih diskon setengah, itu cara mereka mengundang negara-negara untuk datang dan berunding,” ujarnya.
Ia pun menghimbau agar Indonesia tidak terburu-buru merespons kebijakan baru dari Trump dengan retaliasi. “Yang diperlukan adalah diplomasi aktif dan kompak dengan negara lain, bukan perang dagang,” pungkas Heri. (C-13)

