Akhirnya, Rupiah Rebound
JAKARTA, investortrust.id - Setelah berhari-hari tertekan, akhirnya rupiah rebound terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan di pasar spot valas awal pekan, Senin (03/03/2025) ini. Sentimen positif datang dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mengatakan tambahan tarif yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump tidak akan meningkatkan inflasi, sebagian karena Cina akan 'menanggung beban tarif yang diberlakukan'.
Kurs mata uang Garuda tercatat dibuka menguat 45 poin atau 0,27% ke level Rp 16.529 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB, berdasarkan data Yahoo Finance. Sedangkan secara year to date, rupiah masih terdepresiasi 2,76%.
"Sentimen positif datang dari AS. Pada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di White House, Trump juga menegaskan posisi Amerika dalam perang Rusia-Ukraina," ujar pengamat pasar modal Reza Priyambada, Jakarta, Senin (03/03/2025) pagi.
Baca JugaTeruskan Upaya Akhiri Perang Ukraina, Starmer Jembatani Krisis Hubungan Trump-Zelenskyy
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah Senin pagi. Berdasarkan data Yahoo Finance, DXY turun 0,43 poin atau 0,40% ke 107,18.
Namun, indeks dolar masih menguat 1,21% secara year to date (ytd).
Sentimen AS
Komentar Bessent itu muncul hanya dua hari sebelum tambahan tarif tersebut dijadwalkan berlaku pada hari Selasa. Trump diperkirakan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar baru 25% atas impor dari Meksiko dan Kanada, kecuali energi dari Kanada 10%. Presiden Trump juga mengumumkan AS akan mengenakan bea tambahan sebesar 10% untuk impor dari Cina, di atas tarif 10% yang telah ia berlakukan terhadap negara itu pada 4 Februari.
Sebelumnya, beberapa ekonom telah menyuarakan kekhawatiran bahwa tarif tersebut dapat menyebabkan peningkatan inflasi AS. Hal itu akan mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun 2026.
Bank Sentral AS masih mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) di level 4,25-4,50%. Sementara Bank Indonesia juga mempertahankan BI Rate berada di level 5,75%.
Baca Juga
Regulatory Fallacies Leading to a Wave of Bankruptcies: Indonesian Cases
Dalam wawancara di acara CBS, Minggu (02/03/2025), Bessent ditanya tentang dampak penaikan tarif impor Trump terhadap rata-rata rumah tangga. “Kita belum tahu karena itu bergantung pada situasinya, tetapi yang bisa saya katakan adalah saya tidak khawatir tentang Cina. Cina akan membayar tarif tersebut karena model bisnis mereka adalah mengekspor. Ini sebagai cara (AS) untuk keluar dari (tekanan) inflasi, jadi mereka akan menanggung beban tarif yang diberlakukan,” paparnya.
Sementara, Kementerian Perdagangan Cina pada hari Jumat mengatakan bahwa mereka dengan tegas menentang kenaikan tarif terbaru dari Trump dan berjanji akan melakukan tindakan balasan jika diperlukan. Setelah AS memberlakukan putaran awal penaikan tarif impor pada bulan Februari, Cina menaikkan bea masuk atas beberapa impor energi dari AS dan menambahkan dua perusahaan AS ke dalam daftar entitas yang tidak dapat dipercaya.
Cina kemungkinan mengambil langkah serupa lagi setelah AS memberlakukannya tarif baru. "Jika AS bersikeras dengan keputusannya sendiri, Cina akan mengambil semua tindakan balasan yang diperlukan untuk mempertahankan hak dan kepentingan sahnya," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China sebelumnya kepada CNBC.
Baca Juga
Balas Trump, China Terapkan Tarif Tambahan Hingga 15% pada Sejumlah Produk AS
Pada hari Minggu, Bessent juga ditanya tentang komentarnya bahwa Meksiko telah mengusulkan untuk mencocokkan tarif AS terhadap Cina, guna menghindari terkena tarif Trump. Ia juga mendesak Kanada untuk mengikuti langkah Meksiko.
"Kita lihat saja nanti. Kepemimpinan Meksiko telah menawarkan untuk melakukan itu. Kami belum mendengar dari pihak Kanada, tetapi saya pikir itu akan menjadi awal yang sangat baik," kata Bessent.
Bessent menambahkan bahwa pengumuman dari negara-negara tersebut bisa saja datang pada hari Selasa, atau mungkin tembok tarif diberlakukan. Ia kemudian menyebut kita semua akan melihat apa yang terjadi selanjutnya.

