Ekonom Sebut Kini Tumbuh Gejala 'Lazy Banking' di Perbankan
JAKARTA, Investortrust.id - Ekonom Bright Institute Awalil Rizky mengkritisi sebuah kecenderungan yang ia sebut sebagai ‘lazy banking’ yang tumbuh di tengah kondisi perekonomian saat ini, dan ikut berkontribusi dengan tingkat kucuran kredit perbankan stagnan di kisaran 60%.
“Komposisi penyaluran dana Bank Umum belakangan ini telah mengindikasikan gejala “lazy banking”, sehingga bisa dipahami kucuran kredit perbankan stagnan di kisaran 60%,” kata Awalil di acara diskusi terbatas bertema "Prospek, Masalah, dan Solusi Ekonomi 2025"di Jakarta, Selasa (4/2/2025).
Dalam kesempatan tersebut ia menyoroti gejala lazy banking, atau rendahnya keinginan perbankan untuk memperbesar kucuran kreditnya ke sektor riil, yang mulai terlihat setidaknya dalam satu dekade terakhir. Dalam periode tersebut, bank cenderung menyimpan dana pihak ketiga yang diperolehnya ke instrumen surat berharga negara (SBN). Kendati masih lebih besar porsi yang dikucurkan dalam bentuk kredit, namun dalam empat tahun terakhir porsi dana perbankan yang disimpan dalam bentuk SBN terus membesar.
Ia menunjuk tahun 2019 saat pre pandemi covid, porsi dana perbankan yang disimpan dalam betuk SBN masih berada di angka 12,23%. Namun begitu covid merebak, porsinya melebar menjadi 16,12% pada tahun 2020, dan meningkat menjadi 18,10% di tahun 2021.
Sempat mengalami penurunan menjadi 16,84% pada tahun 2022, namun di tahun berikutnya kembali terkerek naik menjadi 17,11% di 2023, dan menebal kembali di tahun lalu menjadi sebesar 18,12%.
Dalam kesempatan yang sama, Awalil juga menyoroti posisi total operasi moneter Bank Indonesia yang mencapai Rp945,56 triliun pada tahun 2024. Menurutnya, dalam setahun terakhir BI lebih bersifat menyerap rupiah terutama dari dana perbankan.

