BKF: Pemerintah akan Jaga PMI Manufaktur Lanjutkan Kenaikan
JAKARTA, investortrust.id – Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkap kenaikan Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Januari 2025. Tercatat PMI bulan lalu berada di level 51,9 atau tertinggi sejak Juni 2024.
“Kenaikan PMI Manufaktur ini menjadi sinyal positif mengawali 2025 ini. Momentum ini akan terus dijaga,” kata Kepala BKF Febrio Kacaribu, dalam keterangan resminya, Senin (3/2/2025).
Febrio mengatakan, pemerintah berkomitmen menjaga kinerja sektor riil dan mendukung kebijakan pro pertumbuhan industri. Hal ini karena pada Desember 2025, indeks penjualan rill (IPR) meningkat 1% secara tahunan dan indeks keyakinan konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) berada di level ekspansif 127,7.
Baca Juga
Dengan perkembangan ini, optimisme pelaku industri manufaktur terhadap prospek 2025 yang semakin kuat. Kenaikan permintaan mendorong perusahaan untuk menambah tenaga kerja dan meningkatnya stok bahan baku dan barang jadi untuk mengantisipasi lonjakan penjualan.
Di tingkat global, beberapa mitra dagang utama Indonesia seperti India, menunjukkan PMI Manufaktur yang terjaga di level ekspansif. India berada pada level PMI Manufaktur sebesar 58, Amerika Serikat sebesar 50,1 dan China berada di level 50,1.
Sementara, sebagian besar negara di Asia Tenggara mengalami kontraksi. Thailand mencatatkan PMI Manufaktur di 49,6, Vietnam di level 48,9, dan Malaysia di level 48,7.
Pemerintah, kata Febrio, juga terus mengendalikan inflasi. Langkah ini untuk menjaga daya beli masyarakat. “Pemerintah secara konsisten melakukan kebijakan untuk menjaga terkendalinya inflasi pangan, termasuk meningkatkan produksi dan memperkuat cadangan pangan guna mencapai ketahanan pangan. Dalam mempersiapkan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri, Pemerintah akan terus memitigasi risiko gejolak yang mungkin terjadi,” ujar dia.
Baca Juga
Evaluasi Kinerja Ekonomi, Inflasi Terkendali dan PMI Manufaktur Kembali Ekspansif
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadinya deflasi secara bulanan dan tahun kalender pada Januari 2025 sebesar 0,76%. Deflasi secara bulanan pada Januari 2025 terjadi karena turunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) 106,8 pada Desember 2024 menjadi 105,99 pada Januari 2025.
“Pada Januari 2025, angka deflasi secara bulanan dan tahun kalender akan sama karena pembandingnya sama yaitu di bulan Januari 2025,” kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (3/2/2025).
Deflasi bulanan yang terjadi pada Januari 2025 ini merupakan yang pertama setelah terakhir terjadi pada September 2024.
Amalia mengatakan kelompok komoditas penyumbang inflasi terbesar yaitu perumahan, air, listrik, bahan bakar rumah tangga yang mengalami deflasi sebesar 9,16% secara bulanan dengan andil deflasi 1,44%. Komoditas yang mendorong deflasi kelompok ini adalah tarif listrik yang andilnya ke deflasi sebesar 1,47%. “Komoditas lain yang juga memberikan deflasi adalah tomat dengan andil deflasi 0,03% ketimun, tarif kereta api, dan tarif angkutan udara dengan andil deflasi masing-masing 0,01%” kata dia.
Meski begitu, masih ada komoditas yang menopang inflasi. Komoditas tersebut adalah cabai merah dan cabai rawit. Andil inflasi dua komoditas tersebut yaitu 0,19% dan 0,17%. “Ikan segar, minyak goreng, dan bensin memberikan andil inflasi masing-masing 0,03%” ujar dia.

