The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Bitcoin dan Kripto Lainnya Menggeliat
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) melonjak naik setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengonfirmasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve tidak mengubah suku bunga dari kisaran saat ini 4,25% - 4,5% pada periode Januari 2025.
Meskipun Ketua The Fed Jerome Powell dan para pembuat kebijakan mengakui bahwa inflasi tetap "agak tinggi," bank sentral memilih untuk mengambil pendekatan tunggu dan lihat, membiarkan semua opsi terbuka terkait kebijakan moneternya dalam jangka pendek.
Pada awalnya, harga Bitcoin turun bersamaan dengan S&P 500 dan Dow Jones sebelum berbalik arah dan mencapai titik tertinggi intraday mendekati US$ 104.782. Data dari Velo.data menunjukkan pergerakan harga terutama didorong oleh aktivitas dalam pasar berjangka di mana kenaikan suku bunga pendanaan Bitcoin terjadi karena para trader yang berposisi short dilikuidasi hingga mencapai US$ 15 juta selama satu jam terakhir.
Meskipun terjadi kenaikan ke zona resistensi BTC di kisaran US$ 104.000 hingga US$ 106.000, yang masih harus dilihat adalah peningkatan berkelanjutan dalam pembelian spot dan kembalinya premi Coinbase yang sering dikutip. Idealnya, lonjakan margin long disertai dengan peningkatan volume di pasar spot akan menjadi jenis aksi pasar yang diperlukan untuk mendukung percepatan harga di atas US$ 105.000.
Menilik data Coinmarketcap, Kamis (30/1/2025) pukul 04.50 WIB, BTC terpantau tengah menggeliat 3,12% dalam sehari terakhir ke posisi US$ 103.918. Tak hanya BTC, harga Ethereum (ETH), XRP, Solana (SOL) dan BNB juga nampak tengah menguat dalam periode yang sama dengan masing-masing kenaikan 2,34%, 1,29%, 3,51%, dan 1,33%.
Kapitalisasi pasar kripto global kini sebesar US$ 3,53 triliun, peningkatan 2,92% selama hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 125,35 miliar, yang berarti peningkatan 6,77%. Dominasi Bitcoin saat ini adalah 58,41%, peningkatan 0,07% selama sehari.
Baca Juga
Simak Tren Bitcoin di Februari 2025, Harga Berpotensi Menuju US$105.000?
Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan, setelah retest resistance trendline pada perdagangan Senin (27/1/2025), BTC kini berpotensi menuju ke US$ 105.000. Adapun pekan ini akan menandai penutupan bulan Januari sekaligus membawa pasar aset kripto memasuki bulan Februari, yang cenderung ditutup dengan hasil positif selama lebih dari satu dekade terakhir.
Berdasarkan data dari Coinglass, rata-rata BTC ditutup dengan kenaikan sebesar 15,66% sepanjang periode 2013-2024. Pada Februari 2024, BTC tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 43,55%. Selain itu, dalam satu dekade terakhir, BTC hanya ditutup bearish pada Februari 2014 dan Februari 2024.
Meskipun tindakan administrasi Presiden AS Donald Trump terhadap aset digital belum memberikan dorongan harga dalam jangka pendek, dampaknya diharapkan terasa dalam beberapa minggu dan bulan mendatang melalui peningkatan arus aset institusional. ETF Bitcoin spot di AS menutup pekan 21-24 Januari dengan arus masuk bersih mingguan sebesar US$ 1,76 miliar. Blackrock’s IBIT mencatatkan kenaikan terbesar dengan arus masuk bersih mingguan sebesar US$ 1,32 miliar, menurut data dari SosoValue. Ini menandai pekan keempat berturut-turut arus masuk positif untuk ETF bitcoin pada 2025.
"Pekan ini menjadi momen krusial bagi pasar aset kripto dengan dirilisnya data ekonomi utama dari AS, termasuk estimasi pertumbuhan PDB dan metrik inflasi, yang diperkirakan akan mempengaruhi sentimen investor dan tren pasar," ujar Panji dikutip Selasa (30/1/2025).
Baca Juga
Pasar Kripto Awal 2025, antara Donald Trump dan Kebijakan Moneter The Fed
Berikut adalah jadwal peristiwa ekonomi utama yang dapat berdampak signifikan pada pasar aset kripto hingga 31 Januari 2025:
Kamis, 30 Januari 2025: Estimasi Pertumbuhan PDB Q4
Pertumbuhan PDB AS diperkirakan melambat menjadi 2,7% pada Q4 2024 dari 3,1% di Q3. Pembacaan yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga, memberikan tekanan pada pasar aset kripto. Sebaliknya, angka PDB yang lebih rendah dapat menjadi alasan untuk pelonggaran moneter, yang berpotensi mendukung aset kripto.
Jumat, 31 Januari 2025: Data Inflasi PCE Inti
Sebagai indikator inflasi pilihan Federal Reserve, laporan ini akan diawasi ketat untuk tanda-tanda tekanan inflasi. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan menekan harga Bitcoin, karena investor cenderung beralih ke aset berbasis dolar. Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat melemahkan dolar dan memberikan dorongan bagi aset kripto seperti Bitcoin.
“Perlu dicatat bahwa korelasi antara Bitcoin dan indeks keuangan tradisional seperti Nasdaq meningkat belakangan ini, menunjukkan bahwa faktor makroekonomi memainkan peran lebih besar dalam membentuk tren pasar aset kripto,” tutup Panji.

