Masyarakat Berharap Presiden Prabowo Subianto Atasi Masalah Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Masalah ekonomi masih menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sejak dilantik 20 Oktober 2024. Survei yang digelar Indikator Politik Indonesia menunjukkan sebanyak empat masalah di bidang ekonomi perlu menjadi perhatian pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Ada isu-isu ekonomi yang tingkat evaluasinya di bawah 50%,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, saat menyampaikan Evaluasi Publik atas Kinerja Presiden dan Kabinet Merah Putih, secara daring Senin (27/1/2025).
Burhanuddin mengatakan isu seperti pengurangan jumlah pengangguran, penyediaan lapangan kerja, dan pengurangan jumlah orang miskin memiliki tingkat indikator baik dan sangat baik di bawah 50%. Bagi responden, upaya Prabowo dalam mengatasi jumlah pengangguran dinilai 39% baik dan 3% sangat baik. Penyediaan lapangan kerja dinilai responden sebanyak 41% baik dan 4% sangat baik. Sementara, upaya untuk mengurangi jumlah kemiskinan dinilai 44% baik dan 4% sangat baik.
“Isunya jadi berkaitan dengan isu-isu ekonomi. Ada yang di atas 50% menjaga stabilitas rupiah dan menjaga harga kebutuhan pokok,” ucap dia.
Sementara itu, Burhanuddin mengungkapkan bahwa sebanyak 50% respoden merasa harga-harga kebutuhan pokok semakin tidak terjangkau jika dibandingkan tahun lalu. Indikator ini dibuat agar Prabowo menangkap sinyal responden mengenai isu ekonomi secara spesifik. Jika tak ditanggapi, approval rating Prabowo dapat anjlok.
Dari data detail yang dipaparkan, sebanyak 50% responden menyatakan harga kebutuhan pokok saat ini jauh lebih tidak terjangkau dan lebih tidak terjangkau. Sementara, 34,9% responden menyatakan tidak ada perubahan.
“Artinya, di data inflasi approval 79% berkorelasi dengan tingkat inflasi yang rendah, 1,8% secara tahunan. Inflasi yang rendah, tapi masyarakat mengatakan harga kebutuhan pokok dibanding tahun lalu lebih tidak terjangkau,” kata dia.
Kondisi ini menjadi penanda ada perlambatan ekonomi. Ini ditandai dengan pendapatan rumah tangga para responden yang tetap dan cenderung turun. Pada survei lain yang dilakukan, Burhanuddin menunjukkan sebanyak 53,1% responden menyebut pendapatan rumah tangga tetap dan 22,9% mengalami penurunan, serta 4,3% jauh menurun.
“Lagi-lagi kita harus waspada, meskipun tetap sama saja, karena ada inflasi tahunan, kalau pendapatan tetap pun mereka akan menghadapi situasi yang tidak baik. Ada yang meningkat tapi hanya 18,4%,” kata dia.
Survei yang digelar Indikator Politik Indonesia melibatkan 1.220 orang dengan metode simple random sampling. Indikator Politik menetapkan margin of error plus minus 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%. Sampel berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional.

