Menlu Sugiono Yakinkan Dunia Visi Pertumbuhan Ekonomi 8% Prabowo
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyampaikan keyakinan prospek makroekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam satu periode ke depan, dengan visi pertumbuhan ekonomi mencapai 8%. Ia akan menyakinkan dunia bahwa stabilitas ekonomi domestik merupakan fondasi yang solid bagi pembangunan, sekaligus modal Indonesia dalam berkontribusi mewujudkan perdamaian dunia.
"Visi presiden untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% dan mempersiapkan Indonesia menuju negara maju bukan sekadar ambisi. Ini adalah komtimen kita bersama," kata Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) 2025 di kantornya, Jakarta, Jumat (10/1/2025).
Sugiono mengungkap fokus diplomasi Indonesia ke depan akan ditujukan untuk mewujudkan visi Asta Cita yang digaungkan oleh Prabowo. Di antaranya mencakup kedaulatan ketahanan, percepatan transisi energi hijau, ekonomi biru serta mendukung hilirisasi sejumlah komoditas unggulan. Ia meyakini diplomasi Indonesia akan pro-aktif mendukung transformasi ekonomi nasional.
"Diplomasi ekonomi Indonesia akan mendorong perdagangan yang lebih aktif, perluasan pasar Indonesia di luar negeri termasuk negara-negara non tradisional, serta menarik investasi yg mendukung prioritas dan program kerja pemerintah di pasar non tradisional seperti Afrika, Karibia dan Pasifik kita akan meningkatkan kerja sama strategis," jelasnya.
Selain itu ia mengungkap Indonesia juga berkomitmen menyelesaikan perjanjian perdagangan internasional yang sedang berjalan untuk mengurangi ketegangan dan memberi perlindungan bagi pelaku usaha termasuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Mewujudkan Ekonomi Berkeadilan
Dalam pidato tahunannya, Sugiono menyebutkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan akan menjadi salah satu pilar utama diplomasi Indonesia. Ia memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam apabila mendapati kebijakan perekonomian global yang tidak adil, termasuk terhadap komoditas dan produksi unggulan dalam negeri.
"Karena itu diplomasi ekonomi di bawah kepemimpinan presiden akan memperjuangkan arsitektur ekonomi dunia yang lebih inklusif dan berkeadilan dimana suara negara berkembang juga terwakili," paparnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Sugiono menjelaskan Kementerian Luar Negeri akan melakukan strategi diplomasi yang inovatif. Salah satunya adalah dengan membentuk Dirjen Ekonomi dan Kerja Sama Pembangunan, sebagai upaya agar diplomasi lebih sinkron. Upaya ini diharapkan akan mewujudkan keselarasan antara kepentingan politik luar negeri dan seluruh perangkat diplomasi yang ada di dalamnya.
"Bantuan pembangunan sebagai salah satu diplomatic tools juga bentuk smart power, kita melakukan di antaranya pemberian beasiswa, peningkatan kapasitas dari berbagai aparat dan jajaran dari negara tetangga kita, serta bantuan pembangunan yang diperluas untuk negara global south termasuk Afrika, Timteng, Asia Pasifik, dan Amerika Latin," bebernya.

