Soroti PNBP yang Lampaui Target, Bright Institute: Targetnya Terlalu Rendah
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menyoroti Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada APBN 2024 yang melampaui target 117% atau mencapai Rp 579,5 triliun.
“Bisa saja targetnya terlalu rendah,” kata Awalil saat diskusi Realisasi APBN 2024 yang digelar daring, Rabu (8/1/2025).
Meski melebihi target, Awalil menyoroti realisasi PNBP 2024 lebih rendah dibanding 2023 yang mencapai Rp 612,5 triliun. Dia menyebut PNBP sebetulnya mengalami kontraksi dua tahun berturut-turut.
“Sekarang -5,39%. Dan di tahun 2025 sudah ditetapkan juga lebih rendah lagi. Jadi ini, sebenarnya realistis karena menyangkut harga komoditas, lifting gas dan minyak, serta keadaan BUMN,” ujar dia.
Target PNBP pada 2025 tercatat sebesar Rp 513,64 triliun.
Awalil mempertanyakan penyusunan target PNBP yang kerap meleset. Dia menjelaskan, PNBP memang terkait dengan harga komoditas sumber daya alam (SDA) yang porsinya mencapai 40%. Pada 2024 lalu, pendapatan SDA mengalami kontraksi.
Baca Juga
“Memang SDA itu sangat menentukan PNBP, tapi porsinya bertahan di 40an persen dan nilainya dua tahun terakhir ini merosot,” kata dia.
Awalil mengatakan kinerja BUMN yang masuk dalam Kekayaan Negara Dipisahkan (KND) menjadi penopang PNBP. Selama empat kuartal KND mencatatkan hasil positif. Ini mengakibatkan posisi KND tercatat sebesar Rp 86,4 triliun atau naik 5,3% secara tahunan pada tutup buku 2024.
“SDA migas turun, SDA nonmigas turun, yang KND dari BUMN naik tipis,” ujar dia.
Catatan positif KND ini, jelas Awalil, karena BUMN memberikan sebagian hasil pendapatannya. Selain itu, jika ditelisik, catatan pendapatan BUMN ini lebih terkait dengan perundingan bagi hasil.
“Mau dalam keuntungan dia (BUMN) tidak besar pun kan BUMN ada cadangan keuntungan tahun lalu. Ini bukan kinerja fiskal tapi persuasi,” ucap dia.
Selain KND, penerimaan dari Badan Layanan Umum (BLU) juga mencatatkan nilai positif selama tiga kuartal. Penerimaan negara dari BLU sebesar Rp 100,3 triliun pada 2024 atau naik 4,6% secara tahunan.
Kenaikan penerimaan dari BLU ini, kata Awalil, dapat muncul karena meluasnya BPJS Ketenagakerjaan. Dengan begitu, kualitas layanan rumah sakit dapat meningkat.
Sementara itu, PNBP Lainnya hanya tercatat Rp 163,6 triliun atau turun 9,3% secara tahunan.

