RI Catat Inflasi 0,44% Desember 2024, Ekonom: Efek Nataru
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Desember 2024 tercatat sebesar 0,44% secara bulanan. Kondisi membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan. Ekonom Center of Reform On Economics (CORE) Eliza Mardian menyebut catatan inflasi tersebut tidak lepas dari adanya periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
"Inflasi 0,44% secara month-to-month di Desember kemarin itu penyebabnya karena meningkatnya permintaan barang dan jasa menjelang perayaan Nataru. Kontributor terbesar terhadap inflasi adalah bahan makanan," kata Eliza kepada Investortrust, Jumat (3/1/2025).
Ekonom CORE itu mengungkap setidaknya dalam lima tahun berakhir BPS melaporkan perekonomian domestik selalu mencatatkan inflasi setiap bulan Desember. Harga-harga pangan seperti cabai, ayam dan bawang merah mengalami kenaikan dari sisi demand lantaran adanya momen Nataru. Sementara di sisi supply ada gangguan produksi dan distribusi yang diakibatkan cuaca ekstrem.
"Biasanya di musim hujan cabai ini rentan busuk dan terserang hama penyakit dan dari sisi distribusi ini akan terganggu karena hujan menyebabkan sulitnya pengiriman. Apalagi jika medan jalannya itu tanah bukan beton," jelasnya.
Alumnus magister Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga mengungkap, di sisi lain kenaikan harga minyak goreng yang turut menyumbang catatan inflasi di bulan Desember didorong oleh sejumlah faktor. Di antaranya rata-rata harga crude palm oil (CPO) yang naik dibandingkan tahun 2023. Selain itu, struktur pasar minyak goreng yang cenderung oligopoli mempengaruhi harga sehingga pergerakan harga cenderung stagnan.
"Harga minyak goreng juga dapat dipengaruhi oleh keputusan dari beberapa perusahaan besar saja, ini juga yang menyebabkan sulitnya mengawasi distribusi minyak goreng karena sektor swasta amat mendominasi," tuturnya.
Alarm Daya Beli Masyarakat
Sementara itu secara itu year-to-date inflasi 2024 ini lebih rendah dibandingkan saat pandemi tahun 2020 dan 2021. Artinya, ia menilai daya beli masyarakat sedang tidak baik-baik saja. Menurutnya pemerintah terlambat dalam rangka melakukan mitigasi terhadap melemahnya daya beli masyarakat Indonesia.
Eliza menjelaskan pelemahan daya beli terutama kelas menengah yang menjadi motor konsumsi dalam negeri ini disebebkan karena upah yg tergerus inflasi. Selanjutnya alasan lain adalah adanya badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus terjadi. Karena umumnya kelas menengah ini bekerja di sektor formal, ketika terkena PHK dan berpindah ke sektor informal, maka otomatis ada penyesuaian pengeluaran.
"Salah satu penyebab inflasi secara year-to-date 2024 ini terendah sepanjang sejarah karena kita melalui deflasi selama lima bulan berturut-turut, sehingga mempengaruhi inflasi whole year. Sementara deflasi lima bulan berturut-turut ini trjadi karena pelemahan daya beli masyarakat yang terus tergerus karena harga pangan yang naik gila-gilaan di awal tahun 2024," tutupnya.
Sebagaimana diberitakan, BPS melaporkan inflasi pada Desember 2024 tercatat sebesar 0,44% secara bulanan. Kondisi membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan.
“Dari 106,33 pada November 2024 menjadi 106,8 pada Desember 2024,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Pudji Ismartini, Kamis (2/1/2025). Pudji mengatakan inflasi secara tahunan tercatat sebesar 1,57% dan secara tahun kalender sebesar 1,57%.
“Pada Desember, angka year on year dan tahun kalender atau year to date akan sama karena pembandingnya sama yaitu Desember tahun lalu,” ujar dia. Inflasi bulanan pada Desember 2024, menurut Pudji lebih tinggi dari inflasi November 2024 dan deretan inflasi bulanan tahun 2023.

