Kurs Rupiah Diperkirakan Cenderung Menguat Senin
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan valas di pasar spot Jumat (6/12/2024), seiring indeks dolar AS yang melemah. Nilai tukar rupiah diperkirakan cenderung melanjutkan penguatan pada Senin (9/12/2024).
Hingga Minggu malam (8/12/2024), indeks dolar AS masih melemah. Indeks kembali di bawah 106.
“Pada perdagangan akhir pekan lalu, kurs rupiah ditutup menguat 17 poin (0,11%) ke Rp 15.845 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 15.862 per dolar AS. Untuk Senin, mata uang rupiah diperkirakan masih fluktuatif di rentang Rp 15.800 – Rp 15.850 per dolar AS dan ditutup menguat,” kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memaparkan hasil risetnya, Jakarta, Jumat (6/12/2024) sore.
Sementara berdasarkan informasi kurs Jisdor Bank Indonesia, rupiah ditutup di level Rp 15.848 per dolar AS pada Jumat sore. Nilai tukar mata uang Garuda terhadap greenback menguat 0,28% dibanding hari sebelumnya di Rp 15.892 per dolar.
Ibrahim mengatakan, fokus pasar sekarang tertuju pada data nonfarm payroll employment AS untuk November, yang dirilis Jumat waktu setempat atau Sabtu waktu Indonesia. Data tersebut sudah diprediksi meningkat tajam dari Oktober yang terganggu, akibat badai dahsyat menghantam negara dengan perekonomian terbesar itu.
"Data itu kemungkinan akan menjadi faktor dalam prospek penurunan suku bunga Fed Funds Rate, di mana kekuatan di pasar tenaga kerja mengurangi dorongan The Fed memangkas suku bunga. Data tersebut muncul beberapa minggu sebelum pertemuan terakhir The Fed untuk tahun ini, di mana Bank Sentral AS diperkirakan memangkas lagi suku bunga sebesar 25 basis poin, namun komentar terbaru pejabat The Fed serta prospek kebijakan ekspansif di bawah Presiden AS Terpilih Donald Trump memicu keraguan atas suku bunga di tahun-tahun mendatang," kata Ibrahim.
Pada Sabtu (7/12/2024), US Bureau of Labor Statistics (Biro Statistik Tenaga Kerja AS) melaporkan total nonfarm payroll employment meningkat 227.000 pada bulan November, menyusul revisi kenaikan pada Oktober sebesar 36.000 (awalnya 12.000). Angka pekerjaan nonpertanian ini berada di atas rata-rata pertumbuhan sebesar 186.000 per bulan selama 12 bulan sebelumnya.
"Namun, tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 4,2% pada bulan November, dan jumlah pengangguran meningkat menjadi 7,2 juta, naik dari 4,1% dan 7,0 juta orang pada Oktober 2024. Ini juga lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tingkat pengangguran sebanyak 3,7% dan jumlah pengangguran 6,3 juta juta orang," papar Forest Economic Advisors, Sabtu (8/12/2024).
Baca Juga
OJK Dorong Industri Jasa Keuangan Ambil Peran untuk Mendukung Program Pemerintah
Sementara itu, hingga Minggu (8/12/2024), indeks dolar AS tercatat masih melemah. Hingga pukul 22.11 WIB, DXY ini melemah 0,08 poin atau 0,08% dibanding hari sebelumnya, ke level 105,97.
Dari Asia, Yoon Lolos Pemakzulan
Dari Asia, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol lolos dari upaya pemakzulan yang diajukan oleh partai oposisi dalam pemungutan suara di Majelis Nasional pada Sabtu (7/12/2024). Hal ini berkat aksi boikot sidang yang dilakukan anggota partainya, sehingga pemungutan suara terkait deklarasi darurat militer Yoon pada pekan ini hanya berhasil mengumpulkan 195 suara, di bawah ambang batas 200 yang dibutuhkan. Akibatnya, mosi pemakzulan tersebut secara otomatis batal, namun demikian posisi Yoon ke depan belum sepenuhnya aman.
Yoon secara mengejutkan, pada Selasa malam, mengumumkan deklarasi darurat militer, di mana pihak militer memiliki wewenang darurat luas untuk memberantas apa yang ia sebut sebagai 'kekuatan antinegara'. Namun, enam jam kemudian, pada hari Rabu, ia mencabut pemberlakuan darurat militer di tengah reaksi protes keras publik dan politisi.
Baca Juga
Presiden Korea Selatan Yoon Lolos dari ‘Impeachment’ Setelah Partai Penguasa Boikot Pemungutan Suara
Pasar Asia pada minggu ini juga bersiap menghadapi banjir data Cina. Fokus pasar akan tertuju pada Konferensi Kerja Ekonomi Pusat (CEWC) tahunan Cina, guna mendapatkan lebih banyak petunjuk tentang stimulus dan prospek ekonomi di negara dengan produk domestik bruto terbesar kedua di dunia itu.
Cina akan merilis data inflasi November pada hari Selasa. Berikutnya, data perdagangannya bakal diumumkan pada Rabu mendatang.
Faktor Internal
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan, cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2024 tercatat sebesar 150,2 miliar dolar AS. Angka tersebut sedikit menurun dari posisi bulan sebelumnya senilai 151,2 miliar dolar AS. Penurunan cadangan dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah RI.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal," tandasnya.
Bank Indonesia memperkirakan kinerja ekspor akan tetap positif. Neraca transaksi modal dan finansial diperkirakan tetap mencatatkan surplus. Hal ini sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik, yang mendukung tetap terjaganya ketahanan eksternal.
"Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal. Dengan demikian, dapat menjaga stabilitas perekonomian dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," paparnya.
(Disclaimer on)

