Stimulus dan Perbaikan Infrastruktur, Tarik Dana Asing Long Term
Oleh Reza Priyambada,
Direktur PT Reliance Sekuritas Tbk (RELI)
INVESTORTRUST.ID – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, satu perusahaan asset manager global saja, seperti BlackRock, menguasai dana kelolaan sekitar US$ 11 triliun atau 8 kali produk domestik bruto Indonesia sekitar US$ 1,4 triliun. Dana-dana global sekelas ini bisa ditarik masuk lewat pasar modal dalam negeri, untuk mendanai proyek-proyek besar hilirisasi dan berlanjut ke industrialisasi di Tanah Air. Hal itu sekaligus memacu pasar modal RI berkembang lebih besar, lebih stabil, lebih kuat.
Namun, tentu saja ada syaratnya. Yang pertama, untuk menarik investasi dari luar -- maupun dari dalam negeri sendiri -- yang perlu diperhatikan adalah infrastrukturnya harus dibangun bagus.
Kedua adalah kepastian hukum. Ketiga, yang tidak kalah penting, adalah keamanan digital atau digital security. Hal ini karena semakin kompleks investasi, semakin kompleks teknologi, dan semakin kompleks pula kejahatan cyber-nya.
Hal ini perlu diantisipasi sungguh-sungguh oleh para pemangku kepentingan, agar Indonesia dapat meningkatkan investasi di dalam negeri yang semakin dibutuhkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tinggi yang ditargetkan pemerintah, 8%. Sementara, pertumbuhan kuartal III tahun ini sebesar 4,95% berdasarkan data Badan Pusat Statistik, di bawah rata-rata pertumbuhan satu dekade terakhir.
Tak Hanya Perlu Likuiditas Besar
Pasar modal juga harus diperbesar likuiditasnya. Karena perusahaan asset manager global dalam berinvestasi di suatu negara salah satu pertimbangannya adalah kemudahan untuk keluar juga.
Di sisi lain, meski likuiditas besar merupakan hal penting bagi pasar modal, yakni dengan bisa menarik masuk perusahaan asset manager global, namun Indonesia juga harus mempertimbangkan faktor risikonya. Indonesia harus betul-betul serius memperhatikan hal ini.
Pasalnya, ketika dana besar itu masuk memang akan meningkatkan nilai investasi kita, tapi pada saat investasi tersebut keluar, nanti malah bisa mengganggu investasi. Ini lantaran ketika dana besar itu keluar, pasti investor lain akan mempertanyakan ada apa dengan keluarnya dana besar tersebut. Hal ini dapat memicu dana-dana investasi lainnya juga ramai-ramai ikut keluar.
Oleh karena itu, ketika ada dana besar masuk -- baik itu dari luar negeri maupun dalam negeri -- yang perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi sustainability dana tersebut masuk ke dalam investasi di Indonesia.
Perlu Stimulus Besar
Di sini, tentu saja, pemerintah Indonesia juga perlu inisiatif memberikan stimulus yang cukup signifikan, sebagaimana dilakukan Cina untuk mendorong perekonomian dan pasar modalnya. Hal ini akan memberikan signal positif terhadap pasar.
Direktur PT Reliance Sekuritas Tbk (RELI) Reza Priyambada. Video: Investortrust/Ester Nuky.
Pemberian stumulus yang kuat berarti pemerintah punya concern yang cukup tinggi terhadap perbaikan iklim investasi. Keseriusan ini akan memberikan sentimen positif ke pasar dan meningkatkan kepercayaan investor.
Perlu juga diperhatikan, selain pemerintah memberikan stimulus, harus diikuti dengan perbaikan infrastruktur di bawahnya. Artinya, ketika pemerintah berinisiatif untuk meningkatkan investasi atau capital inflows di dalam negeri, ada beberapa hal harus diperbaiki dulu, agar investasi yang ada di Indonesia bisa sifatnya long term dan lebih sustain. ***

