Super Holding BUMN Diluncurkan Presiden 8 November 2024, Wamenkeu III Beri Bocoran
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan III Anggito Abimanyu menjelaskan wacana pembentukan super holding badan usaha milik negara (BUMN). Anggito mengatakan langkah ini dimulai dengan mengonsolidasikan kepemilikan aset pemerintah di Kekayaan Negara Dipisahkan (KND) atau sovereign wealth fund (SWF).
“Hampir semua negara-negara yang mengonsolidasikan keuangan itu mampu me-leverage untuk mengumpulkan dananya,” kata Anggito saat Puncak Dies Natalis ke-15 dan Lustrum III Sekolah Vokasi UGM, yang dipantau daring, Senin (28/10/2024).
Baca Juga
Pikat Generasi Milenial, Penjualan ORI026T3 dan ORI026T6 Raup Rp 19,36 Triliun
Dalam paparannya, Anggito menyebut Norwegia menjadi salah satu negara dengan SWF tertinggi di dunia. Asset Under Management (AUM) yang dimiliki Norwegia tercatat mencapai US$ 1.700 miliar.
“Mereka (Norwegia) dapat surplus dari minyak. Kemudian Cina, China Development Bank dengan AUM (assets under management) sebesar US$ 1.240 miliar. Kemudian, Abu Dhabi Investment Authority (UAE) bisa mengumpulkan capital hingga US$ 993 miliar,” kata dia.
Sementara itu, Singapura melalui Temasek Holding tercatat bisa mengumpulkan US$ 332 miliar.
Kumpulkan Saham Pemerintah
Anggito mengatakan Presiden Prabowo Subianto akan mengumpulkan saham pemerintah di dana pensiun, Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya.
“Itu kalau sendiri-sendiri kan nggak bisa apa-apa ya,” ujar dia.
Baca Juga
Untuk itu, Anggito menyebut upaya pembentukan super holding ini menjadi salah satu jalan keluar. Dia mengatakan, dana yang terkumpul dari super holding itu bukan digunakan, melainkan untuk menarik investasi asing dalam jumlah yang besar.
“Jadi, ini dana yang tidak likuid. Tapi, kalau kita kumpulkan, kan kita menjadi super holding yang solvent, yang bisa menarik dana dari tempat lain,” kata dia.
Dana yang ditarik dari investasi asing itu dapat digunakan untuk membiayai proyek-proyek strategis.
Badan Pengelola Investasi
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melantik Muliaman Hadad sebagai kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Muliaman mengatakan badan baru ini akan menjadi pengelola investasi dari luar anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
“Nantinya ditugaskan mengelola investasi di luar APBN. Jadi semua aset-aset pemerintah yang dipisahkan itu nanti akan dikelola badan ini,” ujar Muliaman, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/10/2024).
Muliaman mengatakan Badan Pengelola Investasi akan menyelesaikan administratifnya. Dia menjelaskan targetnya badan ini akan membentuk super holding seperti Temasek milik Singapura.
“End state-nya iya. Mirip-mirip seperti itu,” kata dia.
Sebagaimana dilansir Antara, BP Investasi Danantara yang nantinya menjadi lembaga pengelola investasi di Indonesia itu bakal diluncurkan Presiden RI Prabowo Subianto pada 8 November 2024.

